OPINI

CAK NUN MENGULAS PROSESI JATUHNYA PRESIDEN INDONESIA

WONOSARI, Sabtu Wage, – Santri, penyair, sekaligus budayawan kondang, Emha Ainun Nadjib, mengulas tragika jatuhya kekuasaan Soekarno, Soeharto, serta Abdurrahman Wahid. Susilo Bambang Yudhoyono  turun secara normatif, sementara Joko Widodo masih dalam teka-teki besar.

“Soekarno jatuh karena dikudeta,” ujar Cak Nun di media You Tube beberapa saat lalu.

Tidak disebut secara eksplisit, agen pengkudeta Soekarno. Tetapi  dihimpun dari berbagai maiyah yang dilakukan di tahun 2017, tagrika rontoknya kekuasaan Soekarno tidak lepas dari campur tangan Amerika Serikat (CIA).

Secara konstititusional, rezim Soekarno tumbang karena Nawaksara (pidato pertanggungjawaban) terhadap peristiwa G 30 S PKI ditolak  MPRS.

Soegiarso Soeroyo, panulis buku Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai  di halaman 561 mencatat, bahwa pertanggungjawaban Presiden selaku mandataris MPRS seperti pidato Nawaksara beserta pelengkapannya tidak memenuhi jiwa dan ketentuan UUD1945. Oleh karenanya MPRS menolak pertanggungjawaban tersebut.

Berbeda dengan jatuhnya Presiden Soeharto. Menurut Cak Nnun, sama-sama tragis, Soeharto digusur dari istana karena desakan reformasi. Kemiripannya, Soekarno – Soeharto terancam diajukan ke pengadilan, tidak terlaksanana karena keduanya keburu mangkat.

Gusdur, beda lagi. Dia jatuh dan keluar dari istana karena sidang istimewa, terkait pengangkatan Kapolri tidak berembug dengan DPR.

SBY ada kekecualian. Presiden pendiri Partai Demokrat ini, meski banyak menuai kritik lantaran di masa  pemerintahannya banyak kader yang ditelkung KPK, terhindar dari tragika 3 presiden pendahulu. SBY turun normatif karena undang-undang.

Jokowi, menurut Cak Nun, dikudeta tidak mungkin, direformasi tidak masuk akal. Mau diseret ke sidang istiwewa, makin mustahil.

“Jokowi jatuh dari kekuasan, yo tibo karepe dewe, kata Cak Nun berkelakar.

Tanda tentang hal itu, telah dimulai di tahun pilkada serentak 2018. Tahun 2019 bakal ada kekacauan pada pileg dan pilpres. Ibarat orang punya hajat mantu, pengantin duduk di pelaminan mendadak melahirkan orok.

 

 

Penulis: Bambang Wahyu Wiayadi

infogunungkidul

Recent Posts

Prof Sony Warsono Resmi jadi Guru Besar UGM

YOGYAKARTA - JUMAT LEGI, PROFESOR Sony Warsono, MAFIS, Ph.D.,CA, Ak resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar…

6 jam ago

Rektor UGM Buka Rangkaian PIONIR, Sambut 11.099 Mahasiswa Baru

YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 11.099 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus…

4 hari ago

Momentum HUT RI ke-81, SD Muhammadiyah Mulusan II Unjuk Kemajuan

GUNUNGKIDUL-SENIN PAHING, SD Muhammadiyah Mulusan II Padukuhan Mahbang, Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, menggelar kegiatan jalan…

4 hari ago

Seorang Kakek asal Gunungkidul Tewas Tertemper Kereta Api

SLEMAN-SENIN PAHING, SEORANG kakek berinisial N (73) warga Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul,  DIY tewas…

4 hari ago

Ratusan Kakak Asuh Maba UPN Veteran Yogya Jalani Pelatihan Bela Negara di AAU

YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 210 mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta yang terpilih sebagai kakak asuh…

4 hari ago

Kekeringan Akibat Kemarau Panjang di Gunungkidul Menjadi Perhatian Banyak Pihak

RONGKOP - KAMIS PON, Musim kemarau panjang tahun ini membawa tantangan ganda bagi Kabupaten Gunungkidul.…

1 minggu ago