OPINI

BATAL MENCARI MENCARI KERJA

WONOSARI, Kamis Wage – Dua remaja kakak beradik, berasal dari pelosok desa  terpencil nekad pergi ke Jakarta. Mereka berdua ingin mencari pekerjaan. Alasannya, mendengar cerita, Jakarta itu simbol kota moderen di Indonesia, sementara Gubernur Anies Baswedan sedang gencar membuka lapangan kerja baru.

Prototipe dua remaja dari udik ini bukan termasuk generasi bodoh, mereka hanya sedikit blo-on, atau lebih tepatnya mereka tidak memiliki kesadaran. Selepas desanya dihantam banjir niatnya kuat merantau cari duit untuk membangun rumah yang porak poranda.

Belum menemukan lapangan kerja yang ditawarkan Pak Gubernur, mereka melihat bangunan menjulang tinggi, di puncaknya ada emas murni (tugu Monas). Kedua remaja tersebut terheran-heran. Dalam tulisan ini saya memanfaatkan sebagian isi pengajian Kyai Haji Bardan.

“Kang, mendirikan tugu setinggi itu caranya gimana ya. Tukang-tukangnya apa nggak singunen ya (adrenalin, keluar keringat dingin),” tanya si adik, bengong, (30/11).

Kakak menjawab kalem, bahwa itu hal biasa, sebagaimana warga desa membuat bangungan serupa.

“Ya pakai tiang bambulah, disambung-sambung. Koyo ngono kok mbok takokne,” jawab kakak sok tahu.

Mereka meneruskan perjalanan, tetapi belum juga menemukan pekerjaan yang menurut surat kabar dan televisi disediakan Gubernur Anies.

Yang mereka temukan malah ratusan gedung bertingkat, berdinding kaca. Di pintu utama tertulis kata OPEN.

“Ow, gedung-gedung di Jakarta itu namanya sama, semua OPEN. Kalau OPENnya segede itu, lalu rotinya berapa besar ya Kang,” tanya adik.

Sang kakak tidak menggubris. Matanya jalang mencari pekerjaaan yang dijanjikan Gubernur Jakarta.

Astagfirullah, ujar adik setengah berteriak, karena melihat warga bule masuk gedung melalui pintu bertuliskan OPEN. Dia berkeyakinan si bule bakal menjadi roti.

Semenit kemudian, seorang negro, keluar dari pintu OPEN. Dia menyangka, si bule yang kulitnya putih, berubah menjadi gosong.

Adik yang blo-onnya tidak ketulungan sempat berkesimpulan, pemandangan kota Jakarta sangat mengerikan. Dia memutuskan untuk pulang ke desa.

Kakak adik berpandangan, banjir yang selama ini mereka sandang tak sekejam gedung OPEN yang mereka saksikan.

Mereka pulang, dengan niat baja menjumputi puing-puing rumah yang hancur diterjang banjir untuk direkonstruksi ulang, tanpa merengek meminta bantuan.

 

Penulis: Bambang Wahyu Widayadi

infogunungkidul

Recent Posts

Prof Sony Warsono Resmi jadi Guru Besar UGM

YOGYAKARTA - JUMAT LEGI, PROFESOR Sony Warsono, MAFIS, Ph.D.,CA, Ak resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar…

5 jam ago

Rektor UGM Buka Rangkaian PIONIR, Sambut 11.099 Mahasiswa Baru

YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 11.099 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus…

4 hari ago

Momentum HUT RI ke-81, SD Muhammadiyah Mulusan II Unjuk Kemajuan

GUNUNGKIDUL-SENIN PAHING, SD Muhammadiyah Mulusan II Padukuhan Mahbang, Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, menggelar kegiatan jalan…

4 hari ago

Seorang Kakek asal Gunungkidul Tewas Tertemper Kereta Api

SLEMAN-SENIN PAHING, SEORANG kakek berinisial N (73) warga Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul,  DIY tewas…

4 hari ago

Ratusan Kakak Asuh Maba UPN Veteran Yogya Jalani Pelatihan Bela Negara di AAU

YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 210 mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta yang terpilih sebagai kakak asuh…

4 hari ago

Kekeringan Akibat Kemarau Panjang di Gunungkidul Menjadi Perhatian Banyak Pihak

RONGKOP - KAMIS PON, Musim kemarau panjang tahun ini membawa tantangan ganda bagi Kabupaten Gunungkidul.…

1 minggu ago