OPINI

CERMIN DUA SISI

Deklarasi Sumpah Pemuda membuktikan pentingnya peranan pemuda dalam mamajukan sebuah bangsa. Pengetahuan baru dan kreatifitas tinggi yang dimiliki pemuda merupakan aset bangsa yang tak ternilai.

Salah satu contoh yakni di Negara Republik Indonesia, peranan pemuda sudah tidak diragukan lagi sejak zaman perjuangan. Untuk menaklukkan dunia bahkan Bung Karno hanya meminta diberi sepuluh pemuda.

Di era digitalisasi saat ini, pemuda digadang menjadi ujung tombak pendorong perekonomian Indonesia karena generasi muda saat ini sudah tidak asing lagi dengan kemajuan teknologi.

Peran aktif anak bangsa di era digitalisasi dapat diimplementasikan dengan cara meningkatkan pengenalan digital di tengah masyarakat. Hal tersebut sangat penting untuk mengakselerasi proses transformasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi maupun sektor lainnya yang ada di Indonesia.

Namun demikian, kemandirian, rasa tanggungjawab harus selalu ditanamkan pada masing masing pribadi pemuda-pemudi generasi penerus bangsa.

Peran orang tua tentunya sangat dibutuhkan dalam memberikan pembekalan kepribadian dan kemandirian kepada putra-putri aset bangsa tersebut.

Namun tak jarang, muncul pendapat yang beragam ketika para orang tua sedang memberikan pondasi tentang kemandirian, tanggungjawab kepada anak-anaknya.

Salah satu contoh peristiwa yang terjadi di depan Kantor Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul beberapa waktu lalu. Seorang ayah turun dari motor bersama putri kesayanganya.

Usai melepas helm, sang ayah berkata “Gek neng ruangan kono kae maturo karo petugase omong nak arep gawe KTP ngono,” ucap sang ayah mengajari putrinya.

Dengan wajah polos yang penuh rasa ragu antara takut dan malu, sang anak berbisik kepada bapaknya “Kancani pak,” bisik sang anak.

Mendengar bisikan sang anak, spontan sang ayah marah “Kowe ki wes SMK, gor ngurus KTP we ora wani dewe, gek kapan arep mandiri,” tegas sang ayah.

Dengan mata berlinang sang anak langsung menggandeng tangan bapaknya sembari berjalan menuju ruang pelayanan Kantor Kapanewon Wonosari.

Sepanjang perjalanan sang ayah terus melontarkan kalimat kalimat kepada anak kesayanganya tersebut dimuka umum.

Ada dua sisi jawaban atas kejadian di atas, satu sisi mengatakan sang ayah tega memperlakukan anaknya seperti itu di depan umum, namun di sisi lain sang ayah tentunya sedang mengajari kemandirian kepada putrinya.

Penulis: A Yuliantoro

infogunungkidul

Recent Posts

Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Gunungkidul

GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON, GEMPA bumi dengan kekuatan Magnitudo 3,0 mengguncang Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah…

15 jam ago

Pertamina Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Hingga 2026 PT

PT PERTAMINA Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026,…

4 hari ago

Tabrak Honda Beat, Seorang Pelajar Meninggal Dunia di TKP

GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

2 minggu ago

JAPFA dan LPER Resmikan Kemitraan Strategis

GUNUNGKIDUL - KAMIS PON, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Koperasi Produsen Usaha Lembaga…

2 minggu ago

UNS Wisuda 1.082 Mahasiswa Periode VII Tahun 2026

SURAKARTA - MINGGU WAGE, UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Surakarta mewisuda sebanyak 1.082 mahasiswa di Auditorium…

2 minggu ago

Unjuk Rasa di Yogya Berlangsung Aman

YOGYAKARTA - JUM'AT PAHING, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan, aksi demontrasi yang berlangsung pada siang hingga…

3 minggu ago