CERMIN DUA SISI

1041

Deklarasi Sumpah Pemuda membuktikan pentingnya peranan pemuda dalam mamajukan sebuah bangsa. Pengetahuan baru dan kreatifitas tinggi yang dimiliki pemuda merupakan aset bangsa yang tak ternilai.

Salah satu contoh yakni di Negara Republik Indonesia, peranan pemuda sudah tidak diragukan lagi sejak zaman perjuangan. Untuk menaklukkan dunia bahkan Bung Karno hanya meminta diberi sepuluh pemuda.

Di era digitalisasi saat ini, pemuda digadang menjadi ujung tombak pendorong perekonomian Indonesia karena generasi muda saat ini sudah tidak asing lagi dengan kemajuan teknologi.

Peran aktif anak bangsa di era digitalisasi dapat diimplementasikan dengan cara meningkatkan pengenalan digital di tengah masyarakat. Hal tersebut sangat penting untuk mengakselerasi proses transformasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi maupun sektor lainnya yang ada di Indonesia.

Namun demikian, kemandirian, rasa tanggungjawab harus selalu ditanamkan pada masing masing pribadi pemuda-pemudi generasi penerus bangsa.

Peran orang tua tentunya sangat dibutuhkan dalam memberikan pembekalan kepribadian dan kemandirian kepada putra-putri aset bangsa tersebut.

Namun tak jarang, muncul pendapat yang beragam ketika para orang tua sedang memberikan pondasi tentang kemandirian, tanggungjawab kepada anak-anaknya.

Salah satu contoh peristiwa yang terjadi di depan Kantor Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul beberapa waktu lalu. Seorang ayah turun dari motor bersama putri kesayanganya.

Usai melepas helm, sang ayah berkata “Gek neng ruangan kono kae maturo karo petugase omong nak arep gawe KTP ngono,” ucap sang ayah mengajari putrinya.

Dengan wajah polos yang penuh rasa ragu antara takut dan malu, sang anak berbisik kepada bapaknya “Kancani pak,” bisik sang anak.

Mendengar bisikan sang anak, spontan sang ayah marah “Kowe ki wes SMK, gor ngurus KTP we ora wani dewe, gek kapan arep mandiri,” tegas sang ayah.

Dengan mata berlinang sang anak langsung menggandeng tangan bapaknya sembari berjalan menuju ruang pelayanan Kantor Kapanewon Wonosari.

Sepanjang perjalanan sang ayah terus melontarkan kalimat kalimat kepada anak kesayanganya tersebut dimuka umum.

Ada dua sisi jawaban atas kejadian di atas, satu sisi mengatakan sang ayah tega memperlakukan anaknya seperti itu di depan umum, namun di sisi lain sang ayah tentunya sedang mengajari kemandirian kepada putrinya.

Penulis: A Yuliantoro




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.