BERBAGAI sumber dan pengamat mengklaim, bahwa Didi Kempot telah menulis sekitar 700 lebih judul lagu. Sebagian besar lagu-lagu tersebut ditulis dalam bahasa Jawa dengan tema patah hati dan kesedihan.
Penilaian tersebut tidak sepenuhnya benar, karena ada tema lain yang diangkat menyangkut humanisme, kritik sosial, juga religiusitas.
Didi Prasetyo atau orang lebih mengenalnya dengan nama Didi Kempot adalah penyanyi campursari asal Jawa Tengah. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar lagu yang diciptakannya bertema katresnan kemudian ditulis ulang dengan judul yang berbeda.
Pria yang memiliki nama asli Dionisius Prasetyo lahir di Surakarta, 31 Desember 1966 ini kelihatan sangat produktif, meski sesungguhnya secara tematik dia tidak begitu kreatif.
Beberapa judul lagu menyebut sebuah tempat untuk melukiskan suasana jiwa yang kecewa karena katresnan.
Sebut misalnya Banyu Langit, Tanjung Mas, Stasiun Balapan. Itu semua seperti dieksploitasi untuk menggambarkan Aku dan Kowe yang dirundung sedih karena peristiwa perpisahan.
Yang tidak menyebut tempat, dan murni keluhan hati seorang lelaki diwakili nomor lagu bertitel Ambyar.
“Wis kebacut ambyar, tresnaku kesasar. Seneng karo kowe salah nggonku milih pacar. Wis ambyar, lara sing tak rasakke Kowe lunga ninggalke aku neng kene,” kata Didi Kempot.
Didi Kempot ternyata tampil menggambarkan kegembiraan rakyat kecil. Hal itu dia bungkus dalam imajinasi humanistik dengan judul Sarjana Bakso.
Seorang gadis lulus SMA kepengin kuliah dan terbukti berhasil, padahal orang tuanya berstatus sebagai wong cilik.
Nalika bayi biyen tak kudang, kata Didi Kempot, tak gadang-gadang. Nadyan wong tuwamu dudu juragan, uwong cilik bakul bakso klilingan.
Yang bercorak kritik sosial tidak tedeng aling-aling, dia mengeluh kepada orang nomor satu di tingkat propinsi. Lagu tersebut bertitel Bapak Gubernur.
“Irigasi toyane kok campur bawur. Banyu kali sak Niki kok kados lumpur,” kata Didi Prasetyo.
Tidak hanya itu, lagu bernuansa religius juga diangkat. Dalam Bayi Suci misalnya. Suara tangis anak perempuan tersayang masih terngiang di telinga, tetapi “Kabeh wis ginaris,” tulis Didi Kempot.
Dia tidak lagi bingung arep sambat Karo sapa seperti dalam lagu Ketaman Asmara. Demikian pasti, dia bilang kepada Allah SWT.
Ciri khas sebagian besar lirik lagu Didi Kempot meminjam istilah dalam karya sastra puisi senantiasa mengejar Rima atau bunyi bahasa. Bahkan sangat mendominasi. Menarik dijadikan materi penelitian untuk mahasiswa jurusan bahasa dan sastra.
Contohnya ada pada lagu bertajuk Sekonyong-Konyong Koder.
Satu yang tidak bisa ditawar, dia kembali ke Rahmatullah pas di puncak kejayaannya. Art Longa Vita Brevis begitu para seniman menyebut, seninya panjang, hidupnya pendek. Dia meninggal 5 Mei 2020.
(Bambang Wahyu)
GUNUNGKIDUL – SENIN PAHING, Diduga kehilangan kendali, sepasang suami istri lanjut usia alami kecelakaan tunggal…
NGLIPAR - SENIN PAHING, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…
TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…
YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…
YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…