Gatot dan Tiwul Diburu Wisatawan, Petani Produsen Menonton dari Kejauhan

679

WONOSARI, KAMIS LEGI-Anggota DPRD DIY, Slamet, S.Pd. MM., menyatakan, dunia pariwisata dan pertanian memiliki hubungan erat. Pemikiran Slamet mengarah, bahwa kenaikan pendapatan warga yang terlibat dalam dunia pariwisata, setidaknya berseiring dengan masyarakat tani. Itu harapan, realitasnya berbeda.

“Pariwisata dan pertanian harus saling melengkapi,” ujar Slamet, Rabu (27/12).

Menanggapi pernyataan Slamet, Matan Kepala Dinas Dukcapil Gunungkidul, Eko Subiantoro menyatakan, sudah selayaknya sektor primair (pertanian) menopang sektor sekundair (pariwisata).

Indikasi keterkaitan antara dunia pariwisata dengan pertanian memang cukup menyolok. Makan khas Gunungkidul gatot dan tiwul, pada musim liburan akhir tahun 2018, diburu banyak pelancong domestik.

Darmiyati, salah satu warga Gunungkidul yang lama merantau di ibukota kecewa karena saat mudik liburan tidak sempat mencicipi tiwul. Di pusat-pusat kuliner banyak, tetapi dia tidak sempat berkunjung.

“Sementara itu orang tua tidak memiliki stok glepung (tepung gaplek), bahan baku tiwul,” ujar Darmiyati.

Sisi lain, fakta lapangan menunjukan, larisnya gatot dan tiwul tidak dengan sendirinya mendongkrak tingkat pendapatan petani.

Yang menangguk keuntungan besar adalah para penjaja kuliner. Kehidupan petani biasa-biasa saja, karena pohong sebagai bahan baku gatot dan tiwul harganya tidak beranjak dari Rp 2.000,00 per kilo gram. (Agung)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.