GUNUNGKIDUL: HUJAN KEBANJIRAN KEMARAU KEKERINGAN

970

ALAM diciptakan dalam porsi keseimbangan. Ekosistem terganggu ketika manusia mulai bertingkah.

Pikiran kotor manusia menghakimi, bahwa alam sedang sakit: ekstrim, anomali, menyimpang dan lain sebagainya.

Seorang pengamat lingkungan memotret situasi, pada musim penghujan Gunungkidul kebanjiran, pada musim kemarau Gunungkidul kekeringan.

Meningkat pada pikiran kongklusif, pada musim hujan Gunungkidul terjadi banyak bencana, pada musim kemarau Gunungkidul banyak kebakaran dan banyak berkeliaran Tangki penjaja air.

Manusia semakin tidak memahami, bahwa siang itu diciptakan selalu berpasangan dengan malam. Manfaatnya untuk sandaran melepas lelah setelah seharian bekerja hampir tanpa henti.

Hujan menyiram bumi, esensinya untuk menumbuhkan segala macam biji-bijian yang menyebabkan manusia bisa survival, bertahan hidup.

Hujan membawa berkah, tetapi banyak ditafsirkan hujan menghadirkan sejumlah musibah.

Tidak berbeda jauh dengan kemarau. Tudingan terhadap musim kering sudah kebangetan dan melampaui batas. Kemarau didakwa sebagai biang kekurangan air dan kesengsaraan.

Allah mengringkan bumi dengan kemarau itu adalah metode tidak tertandingi agar tanah bengkah dan tertembus matahari.

Ujung-ujungnya, bumi yang sari patinya diperkosa dan dikuras manusia, intervensi matahari ke dalam rongga mengakibatkan nutrisi pulih kembali, subur kembali.

Tentang hujan dan panas itu bagian mana yang mau didustakan. Keduanya adalah kecintaan Allah SWT terhadap semua ciptaan-Nya.

Pikiran manusia terlalu picik dan dangkal, sehingga menganggap hujan panas melahirkan bencana.

Manusia tidak menyadari bila bencana itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri.

Musim hujan Gunungkidul kebanjiran itu karena ulah penduduknya. Musim kemarau Gunungkidul kekeringan itu sebab kelakuan masyarakatnya.

Gusti Allah itu tidak pernah lelah dan tidak pernah salah.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.