TANJUNGSARI-JUMAT LEGI | Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian bertekad meningkatkan produksi kedelai nasional. Kebutuhan kedelai 3 juta ton setiap tahun sementara produksi dalam negeri baru 600.000 atau 20%. Sisanya masih impor dari Amirika dan Brazil. Gunungkidul digadang menjadi salah satu penyangga kedelai nasional.
Ir. Mulyana, MM. mewakili Direktur Akabi Kementan RI menyatakan hal di atas di depan Bupati Gunungkidul H. Sunaryanta, dalam kesempatan panen kedelai bersama Kelompok Tani Tunas Inti, Desa Kemadang, Kapanewon Tanjungsari 29-4-2021.
Mulyana menawarkan bantuan pemerintah bagi kelompok tani yang masih ingin menanam kedelai, karena ada bantuan paket lengkap meliputi benih beserta pupuk.
“Khusus kedelai, kelompok tani yang sama dalam satu tahun boleh mengajukan bantuan pemerintah hingga dua kali,” terang Mulyana.
Produksi kedelai Gunungkidul menurutnya akan dijadikan sumber benih nasional plus menjadi penyangga produksi.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Ir.Bambang Wisnu Broto mengatakan, musim tanam kedua tahun 2021 luas tanaman kedelai mencapai 2.604 ha tersebar di 18 kapanewon di Gunungkidul.
“Yang 2.546 hektar merupakan bantuan pemerintah program pengembangan kedelai, sisanya seluas 58 hektar swadaya petani,” ujar Bambang Wisnu Broto.
Panen musim tanam ke 2 akan dilaksanakan mulai akhir April sampai pertengahan Mei 2021. Sementara itu musim tanam ke 3 mulai tanam Juni 2021 diharapkan pada MT 3 luas tanaman kedelai 918 hektar.
Pada kesempatan panen di Bulak Lodoyong, Ngepung, Kemadang, Ir.Sugeng Purwanto, MMA. Kadinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY menyatakan bangga karena produksi kedele mencapai 1,9 ton per hektar. Menurutnya itu di atas rata rata produkfitas kedelai di DIY.
Usai membabat kedelai dilanjutkan penandatanganan kesepakatan pembelian kedelai antara PT DNM Jakarta diwakili Saidin Sianipar dengan Tunas Inti diwakili Rubiono. Harga yang disepakati adalah Rp 9.500 per kilogram. (Bambang Widayadi)













