Gunungkidul Siaga: Fenomena Bunuh Diri Kian Menjadi

1486

Kamis Pahing – Gunungkidul ternyata tidak hanya terkenal karena gotong royong masyarakatnya, pariwisatanya yang mulai menggeliat, tiwul, dan gatotnya, tetapi juga terkenal dengan batu kapur putih dan ketandusannya, kisruh Gua Pindul, kisruh gunung karst, kisruh perijinan investor di daerah pesisir, dan yang paling miris, diantara banyak kesemrawutan itu. Gunungkidul juga terkenal karena mitos pulung gantung dan kasus bunuh diri yang kian hari kian mengkhawatirkan.

Dalam periode 2001 – 2016 sendiri terdapat 458 kejadian bunuh diri di Gunungkidul, yang apabila dirata-rata, maka dalam 17 tahun terakhir, terdapat 28-29 kejadian bunuh diri di Gunungkidul setiap tahunnya. (Sumber:swaragunungkidul.com). Sedangkan pada tahun 2017, hingga pertengahan bulan Agustus ini terdapat 25 kasus (kasus Harsito adalah kasus bunuh diri yang ke 25). (Sumber : infogunungkidul.com).

Ada yang menyebut peristiwa bunuh diri yang banyak terjadi di Gunungkidul ini adalah tragedi kemanusiaan, ada juga yang menyebutnya kejadian luar biasa. Yang pasti, fenomena ini telah menjadi perbincangan diberbagai sudut desa, di pasar-pasar, di warung-warung kopi, di jalan-jalan, bahkan di forum resmi hingga ke tingkat nasional. Orang-orang membicarakannya, orang-orang bertanya: ada apa dengan Gunungkidul?

Menyikapi fenomena ini, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tidak tinggal diam. Bupati Gunungkidul, Badingah, bahkan telah membentuk Tim Penanggulangan dan Pencegahan Bunuh Diri yang akhirnya melahirkan Satgas Berani Hidup, sebagai usaha untuk menekan angka kasus bunuh diri.

Tapi sudah cukupkah kita hanya bergantung dengan hal itu? Nyatanya hingga hari ini masih saja ada kasus bunuh diri yang terjadi di Gunungkidul, malah makin kesini makin menjadi. Apa yang salah?

Mungkin kita perlu berupaya lebih keras lagi. Kita harus sama-sama pasang aksi. Mulai dengan hal yang paling sederhana: lebih dekat dengan keluarga, kerabat, teman, dan tetangga kita. Berilah perhatian, koordinasikan segera dengan lingkungan jika sekiranya ada anggota masyarakat kita yang berperilaku mencurigakan.

Jangan menunggu kejadian baru kita rusuh. Jangan hanya mengandalkan pemerintah. Dan jangan sampai angka bunuh diri di Gunungkidul semakin banyak. Cukup berhenti di angka 25 saja. Itu sudah sangat banyak.

 

Penulis: Devi Erhma




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.