ISLAM MENGAJARKAN TOLERANSI, KESUKARELAAN, JUGA KETEGASAN

1526

SETIAP manusia beriman diperintahkan masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Perintah tersebut tertulis di dalam Al-Baqarah Ayat 208. Itu cermin kongkrit bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan sikap toleransi total, tak bisa ditawar.

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

Itu artinya, bahwa orang beriman wajib mempercayai adanya Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari kiamat, dan percaya adanya qada dan qadar.

Khusus mempercayai adanya kitab-kitab diterangkan di dalam asbabun nuzul atau sebab-sebab turunnya Al-Baqarah 208. Di sana diceritakan serombongan orang Yahudi berkata kepada Rasulullah SAW.

“Ya Rasulallah, hari Sabtu adalah hari yang kami agungkan. Maka biarkanlah kami melakukan ibadah pada hari itu. Dan Taurat adalah kitab Allah, maka biarkanlah kami bangun malam dengannya.”

Atas permintaan tersebut, maka turunlah ayat 208 yang dimaksud. Penjelasannya, jika manusia mengimani kebenaran Al-Qur’an, maka wajib hukumnya untuk mempercayai adanya Taurat, Zabur, serta Injil.

Islam secara nyata merupakan agama yang mengajarkan toleransi total, holistik, mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar.

Islam juga mengajarkan kesukarelaan dan keikhlasan yang sangat tegas.

“Tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam, sesungguhnya telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” Al-Baqarah Ayat 256.

Kesukarelaan yang begitu tegas ditulis di dalam Al-Kafirun ayat 2 hingga 6.

“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.”

“Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah.”

“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.”

“Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.”

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.