PERISTIWA

Jagung Belum Menggeser Beras Menjadi Makanan Pokok

SEMIN-SABTU LEGI | Bupati H. Sunaryanta di dalam RPJMD 2021-2026 menulis, bahwa Kabupaten Gunungkidul mencatat 23 isu strategis yang perlu dicermati. Salah satu isu yang menonjol adalah belum optimalnya sistem ketahanan pangan. Tersirat di dalamnya, jagung belum menjadi makanan pokok sebagaimana beras.

Isu lokal (kabupaten) tidak bisa dipisahkan dengan isu internasional yang dideklarasikan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) pada 25 September 2015.

Saat itu (2015) disebutkan, lima belas tahun ke depan hingga 2030, ketahanan pangan menjadi salah satu topik bahasan tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals / SDGs).

Isu ketahanan pangan bisa saja tidak ada masalah di masa kini tetapi dimungkinkan bakal mencuat dan menjadi problem di masa datang.

Kamis, 13 Januari 2022, Bupati Gunungkidul H. Sunaryanta memetik jagung hibrida tanda panen raya bersama Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Padukuhan Tugu, Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Semin.

“Kelompok Tani Ngudi Rejeki mengolah 48,7 Ha lahan pertanian, 15 Ha diantaranya ditanami jagung hibrida. Tanaman yang dipanen varietas NK, dengan hasil 6,7 ton/ha dalam bentuk jagung pipil kering. Dengan harga jual Rp. 4500/kg, hasil yang di dapat petani adalah Rp. 30.150.000/ha,” kata Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Ir. Raharjo Yuwono, 13-1-2022.

Dalam kesempatan panen jagung Bupati Sunaryanta berharap, agar kelompok tani terus meningkatkan hasil melalui optimalisasi lahan dengan penanaman pada musim kering.

Bupati memrintahkan kepada Dinas Pertanian dan Pangan serta instansi terkait untuk bisa mendukung program optimalisasi tanaman jagung, walau jenis pangan tersebut belum bisa menggantikan beras sebagai makanan pokok penduduk.

Dalam dokumen nota pengantar LKPJ Bupati 2020 yang di sampaikan pada rapat paripurna disebutkan kebutuhan rata-rata 114 kg per kapita per tahun. Kebutuhan beras 700 ribu jiwa lebih mencapai 88.305,43 ton.

Sementara total produksi padi 251.906 ton atau ada surplus 163.000 ton. Itu artinya produksi jagung hanya untuk keperluan makanan camilan seperti marning, bahkan hanya menjadi bahan baku pakan ternak. (Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Kecelakaan Beruntun, Seorang Pemotor Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…

3 hari ago

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

2 minggu ago

28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…

2 minggu ago

“Adu Banteng” Vario Vs Supra dua Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

3 minggu ago

Gorok Leher Sendiri, Pria Asal Gunungkidul Ditemukan Tewas

SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…

3 minggu ago

Waspada! Diduga Ulah Maling, 3 Warga Nglipar Kehilangan Emas dan Uang Tunai

GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…

3 minggu ago