WONOSARI, JUMAT PAHING – Sebagai bentuk apresiasi Menteri Kesehatan RI, Prof.Dr. dr. Nila Djuwita, F. Moeloek, Sp.Mk., menyerahkan 23 penghargaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Berkelanjutan kepada kabupaten/kota dan provinsi yang telah mampu dan melaksanakan, Open Defecation Free (ODF) 100%. Salah satu dari 23 kabupaten yang mendapatkan penghargaan adalah Kabupaten Gunungkidul, dibawah kepemimpinan Hj. Badingah, S,Sos., yang dinilai mampu memobilisasi dan mengedukasi warga masyarakatnya memenuhi STBM Pilar pertama. sehingga mendapatkan penghargaan kategori Eka Pratama.
Tahun ini, merupakan permulaan diberikannya penghargaan STBM kepada wilayah yang telah mencapai 100% pilar STBM. Terdapat 23 kabupaten/kota dan 1 (satu) provinsi di Indonesia yaitu Propinsi DIY yang mendapatkan penghargaan STBM kategori pertama.
Penganugerahan penghargaan STBM Berkelanjutan diserahkan secara langsung kepada Bupati Gunungkidul, oleh Menteri Kesehatan R.l, di Auditorium Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi, jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Kamis, (18/10).
Pemerintah telah menetapkan kebijakan nasional pembangunan air minum dan sanitasi yang tertuang dalam Peraturan Presiden nomor 185 tahun 2014 tentang Percepatan Penyediaan Air Minum dan sanitasi sebagai upaya untuk mencapai akses universal pada akhir tahun 2019.
Untuk mewujudkannya, Kemenkes dan beberapa kementerian sena mitra lain meluncurkan pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) pada Tahun 2008. Ada 5 pilar STBM yang harus diterapkan dan dilaksanakan yaitu; stop BAB sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan, pengelolaan sampah. dan pengelolaan limbah cair.
Dirjen Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dr. Kirana Pritasari. MQIH, selaku ketua panitia penyelenggara melaporkan, Penghargaan STBM Berkelanjutan merupakan penghargaan berjenjang dengan 5 kategori, yakni kategori STBM Eka Pratama (memenuhi 1 pilar STBM), STBM Dwi Pratama (memenuhi 2 pilar STBM), STBM Eka Madya (memenuhi 3 pilar STBM), STBM Dwi Madya (memenuhi 4 pilar STBM). dan STBM Utama (memenuhi 5 pilar STBM).
Berdasarkan data e-monev STBM, lanjut dia, untuk saat ini hingga Oktober 2018 tercatat ada 23 kabupaten/kota dan 1 (saw) provinsi yang telah mencapai 100% warganya tidak BAB sembarangan.
Sementara untuk pilar 2 sampai 5 sudah ada yang menerapkan namun belum ada yang mencapai 100%.
“Itu adalah sebuah prestasi yang tidak hanya perlu diapresiasi namun dapat puIa menjadi pembelajaran bagi kabupaten dan kota serta provinsi Iain untuk dapat melaksanakannya,” kata Kirana, Kamis (18/10).
Dibeberkanya, sanitasi dan perilaku kebersihan yang buruk serta air minum yang tidak aman menjadi penyebab banyaknya kematian anak akibat diare di seluruh dunia. Di Indonesia, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjadikan perbaikan sanitasi dan air bersih menjadi tujuan pembangunan berkelanjutan yang harus dicapai.
Sanitasi juga berkaitan erat dengan stunting, tambahnya, Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menyatakan 1 dari 3 anak Indonesia menderita stunting akibat dari sanitasi yang buruk Akses terhadap sanitasi yang baik berkontribusi dalam penurunan stunting sebesar 27%.
” Jika intervensi yang terfokus pada perubahan perilaku dalam sanitasi dan kebersihan, maka dapat menyebabkan potensi stunting berkurang,” akhirnya.
Fitempat yang sama, Menteri Kesehatan RI, Prof.Dr. dr. Nila Djuwita, F. Moeloek, Sp.Mk., menyampaikan, apresiasi kepada kepala daerah yang telah mampu memobilisasi masyarakatnya untuk terlibat dalam pengadaan sanitasi yang layak dan sehat.
Diharapkan semua pihak untuk terus bersinergi membangun masyarakatnya agar berperilaku hidup sehat yang akan menjadikan negara menjadi sehat.
Menkes juga memberikan apresiasi tersendiri kepada Bupati Gunungkidul, Hj. Bacingah, S.Sos.
“Kira-kira tahun 2010 silam Gunungkidul sangat kering dan tandus, tetapi saya sangat kagum kondisi Gunungkidul saat ini, sangat Iuar biasa keberhasilannya, ini adalah berkat usaha dan kerja keras ibu Bupati untuk mensejahterakan masyarakatnya,” apresiasi Menkes.
Beliau (Badingah), lanjut Menkes, merupakan salah satu pejuang perempuan yang berhasil memimpin daerah yang dulu terkenal kering dan tandus, dan sekarang bukan lagi daerah yang kekeringan, menjadi daerah maju makmur di segala bidang dan perilaku hidup sehat warga masyarakatnya terus meningkat bahkan sudah dalam kategori berhasil.
“Ini patut kita apresiasi untuk menginspirasi daerah Iain,” tutupnya.
Di sela-sela acara Bupati Hj. Badingah. S.Sos., kepada media menyampaikan bahwa dirinya akan terus berkomitmen meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Gunungkidul, melalui berbagai program kegiatan di bidang kesehatan. peningkatan kualitas infrastruktur dasar yang memadai, sumber daya manusia utamanya tenaga kesehatan.
Dia berharap masyarakat dapat merubah perilakunya, dan menyadari bahwa kesehatan merupakan kebutuhan mendasar untuk hidup yang lebih berkualitas.
“Saya juga mengajak kepada seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk bersinergi dalam menyelesalkan permasalahan kesehatan,” pungkasnya. (Joko)













