KANGEN PADA SEKOLAH ITU KERINDUAN SEMU

212

JAUH sebelum Ivan Ilic melempar kritik terhadap pendidikan formal di Amerika Latin, Ki Hadjar Dewantara tahun 1931 telah memberi sinyal. Sekolah formal hanya merupakan bagian dari tiga institusi besar tri pusat pendidikan. Keluarga menurut Ki Hadjar Dewantara merupakan pusat pendidikan yang lebih sempurna. Sisi lain, ada indikasi, bahwa sekolah punya andil dalam melahirkan para koruptor.

“Menurut pendapat saya, keluarga adalah suatu tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial. Bolehlah dikatakan bahwa keluarga itulah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan wujudnya dari pada sekolah dan masyarakat,” demikian kurang lebih Ki Hadjar Dewantara menjabarkan konsep tri pusat pendidikan di majalah Wasita Pusara, Agustus 1931.

Bangsa Indonesia banyak melupakan pesan Bapak Pendidikan itu. Akibat paling pahit dirasakan benar pada tahun 2020, ketika anak sekolah diblokir oleh wabah pandemi.

Saat ini keluarga kehilangan peran sentral, karena gagal tidak bisa mengimbangi sokolah, atau keluarga memang didikte dan dipaksa supaya menggantikan sebagai guru layaknya pendidikan formal.

Inti pesan Ki Hadjar Dewantara, keluarga merupakan pusat pendidikan individual, sekolah merupakan pusat pendidikan massal.

Pada masa pandemi peran orang tua sebagai guru individual digeser, harus tunduk pada kurikulum yang ditetapkan negara.

Dengan kata lain negara telah menghancurkan peran keluarga sebagai pusat pendidikan individual anak bangsa sementara tidak banyak yang menyadari.

Sekolah, cukup lama didewakan sebagai satu-satunya lembaga yang berhak mencetak manusia menjadi ini atau itu.

Sementara fakta menunjukkan, sekolah hanya pinter mencetak selembar kertas yang isinya angka 6 hingg angka 10 tetapi sebagian besar tidak diakui oleh dunia kerja. Lebih dari itu, sekolah formal tidak mampu membentuk karakter anak agar bisa membedakan hal yang salah dan yang benar.

Negara dihuni para koruptor merupakan bukti kegagalan sekolah dalam menanamkan akhlak mulia, yang sebenarnya hal tersebut bisa dilakukan oleh keluarga.

Orang tua sibuk mengurus keperluan dunia sehingga kehilangan kemampuan mengendus potensi menyatunya mata hati dan mata pikir dalam satu keseimbangan.

Para orang tua menyerahkan anak-anak mereka kepada sekolah, padahal kegagalan sekolah berada di depan mata.

Kini, setelah setahun anak-anak diblokir pandemi, sebagian tokoh Gunungkidul, bahkan Jakarta melempar isu, bahwa anak mereka rindu sekolah.

Apa yang dirindukan tidak begitu jelas, tetapi tahun pelajaran baru, anak-anak kembali digiring memasuki ruang kelas. Apa mereka akan menjadi manusia yang berkualitas, para orang tua enggan berfikir sejauh itu. Yang pasti, sekolah andil besar dalam memproduksi manusia yang gemar melakukan korupsi.

Kangen pada sekolah itu kerinduan yang semu. Di negeri ini pendidikan model keluarga seperti pendapat Ki Hadjar Dewantara tidak ada yang merindukannya. (Bambang Wahyu Widayadi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.