BERBURU AIR TANPA BUIH DI RUMAH BESAR BERJENDELA LANGIT

172

HATI manusia seperti jalan raya dipenuhi lalu lintas beda jenis kendaraan, beda tujuan, beda kepentingan. Emisi dibuang bebas udara menjadi pekat dan gelap. Sampai waktunya jalan raya itu dicuci dengan gerimis sebulan.

Tamu bernama Ranadhan memberi ruang katarsis (pencucian) kepada manusia yang punya mata hati dan mata pikir agar kembali ke wasathol alias umat yang berada di pertengahan.

Tidak selalu merasa bahwa mata hati dan mata pikir manusia mengembara ke tempat berbeda, maka dibukalah dengan mandi junub, guna menelanjangi awak mulai dari rambut hingga ke ujung kaki.

Milyaran umat berada di ruang tidak ada panas, pun tidak pula dingin, tidak ada gelap semua serba terang.

Suara tanpa rupa mengayuh kelembutan dan berseru, “Bacalah atas nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah.”

Pesan utama, agar kalian bertaqwa, tidak seperti orang-orang yang selalu merugi yang digambarkan tidak punya dan tidak melakukan apa-apa, tetapi merasa ikut memiliki. Mereka merasa ikut kembali dari sebuah perjalanan yang melelahkan, padahal mereka tetap berada di jalan yang kumuh dan menyebalkan.

Tunaikan dan sambutlah tamu agung itu dengan senang dan disenangi, agar kalian serupa air tanpa buih berlindung di bawah keagungan.

Jangan bilang kosong-kosong setelah sebulan bermunajat dengan lapar dan haus, karena hidup itu berjalan di atas titian dosa dan kebaikan.

Belum pasti kalian bisa ketemu Sang Tamu Agung, maka jangan kalian mati melainkan tetap memeluk keyakinan yang benar. (Bambang Wahyu Widayadi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.