KAUM DHUAFA BERJUANG DI SEGALA MEDAN

1634

MANUSIA yang memiliki rizki lebih diperintahkan untuk berbagi kepada peminta-minta (pengemis). Ini aturan baku yang dikeluarkan oleh Penguasa langit dan bumi beserta isinya.

Penguasa politik tinggal menjalani aturan tersebut tidak perlu repot membuat regulasi tambahan yang sekiranya malah bertentangan dengan kemauan Alam.

Para pemberi sedekah, Rp 500,00 hingga seribu rupiah kepada peminta-minta didenda, bahkan diancam kurungan penjara 10 sampai 60 hari.

Mereka, para pemberi sedekah itu adalah orang yang benar, orang yang sedang menjalankan perintah Tuhannya, mengapa harus dihalangi, hanya demi ketertiban umum tidak terganggu.

Denda yang diterapkan kepada para pemberi sedekah pun tidak tanggung-tanggung Rp 100 juta sampai Rp 200 juta.

Uang denda masuk kas negara itu artinya negara melakukan eksploitasi yang kelewat semena-mena. Kekuasaan telah dimain-mainkan semaunya penguasa politik.

Peminta-minta, pengamen, pedagang asongan, pengelap mobil, serta penyemir sepatu sejatinya adalah para pejuang ekonomi pada strata dan ranah kejelataan yang sesungguhnya tidak mereka kehendaki.

Sangat tidak mungkin para gelandangan itu mengais rizki seperti cara yang dilakukan oleh sebagian penguasa politik, koruptor, dan kaum penjilat negara.

Kebiasaan hidup cari pagi dimakan sore, cari sore dimakan pagi tanpa sisa untuk kesehatan dan pendidikan yang dijalani para peminta-minta bertahun-tahun, tidak terlihat oleh para penguasa politik.

Yakin haqul yakin para penguasa politik tidak memiliki data potensi jumlah pengemis, pengamen, pedagang asongan, pengelap mobil, penyemir sepatu yang kini terbirit-birit tunggang langgang lari entah ke mana.

Tidak perlu ngomongin konstitusi, karena Dasar Negara saat ini bukan lagi sumber dari segala sumber hukum.

Para mantan pengemis kini masih saja tetap mengemis, hanya tidak diketahui mereka mengemis kepada siapa dan berjuang di medan yang seperti apa.

Saya berkirim salam untuk kaum Dhuafa. Kibarkan terus panji-panji perjuangan hidup, seperti ketika Nabi Ibrahim diperintah menyembelih Ismail. Berat tetapi harus dilakukan.

Dan kehadiran kaum dhuafa adalah sebuah ketetapan, penguasa politik tidak bisa menyingkirkannya. (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.