OPINI

KEJI: KAUM KOLONIAL MENGGERGAJI UUD 1945

WONOSARI, Selasa wage, – Secara historis, penjajah hengkang dari bumi pertiwi 17 Agustus 1945. Kolonialisme sejak saat itu mundur. Tidak disadari nafsu untuk menguasai bumi pertiwi masih menyala-nyala. Keserakahan itu hingga hampir 73 tahun terus merayap dan terstruktur. Cara yang dilakukan sangat halus, tetapi keji. Kaum kolonial menggergaji Undang-Undang Dasar 1945.

Orang luar, sangat tidak suka ketika melihat bangsa Indonesia yang berpenduduk lebih dari 250 juta juta ini bersatu. Jika bangsa ini bersatu, maka kepentingan mereka terganggu.

Indonesia adalah Jamrut Katulistiwa. Itu julukan negeri tercinta yang diberikan Eduard Douwes Dekker, seorang penulis berkebangsaan Belanda.

Inonesia yang loh atau tuwuh kang sarwo tinandur, sampai kapan pun akan terus diincar oleh kaum kolinial. Oleh sebab itu bangsa-bangsa di luar sana tidak mau Indonesia bersatu.

Politik devide et impera, dengan berbagai cara dilakukan tak kenal henti. Mau kembali melakukan penjajahan seperti abad 19 jelas tidak mungkin.

NKRI harga mati adalah jargon alias semboyan mati, kerna UUD 1945 dengan sangat halus namun keji, telah digergaji habis-habisan.

Efek paling nyata terjadi di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Memandang APBD DKI Jakarta 2018, masyarakat terbelah. Elit politik dibikin sibuk berdebat. Semalam (3/12) dipertontonkan di layar kaca dalam dalam agenda ILC Tv One.

Ini efek pilkada langsung yang dalam hal ini merupakan terjemahan dari UUD 1945 yang telah digergaji (diamandemen).

Di pelosok desa paling terpencil pun muncul kejadian serupa. Mayarakat yang tidak lebih dari 50 KK bisa terbelah menjadi beberapa kelompok, hanya karena ada agenda pemilihan ketua RT.

Tahun 2018, negeri ini akan menyelenggarakan 171 pilihan kepala daerah  serentak. Efek politik devide et impera dipastikan bakal sangat terasa.

Mahkamah Konstitusi dipastikan kebanjiran aduan sengketa proses dan sengketa hasil pilkada. Tahun 2018 masyarakat tidak hanya terbelah tetapi tercabik-cabik, menyusul 2019 pileg dan pilpres.

Pada dasarnya amandemen UUD 1945 bukanlah murni gagasan intelektual bangsa. Hal itu tidak lepas dari campur tangan asing.

Motifnya sangat jelas, dengan menerapkan devide et impera, mereka mudah untuk menggulung untaian jamrut katulistiwa yang digambarkan Multatuli alias Danudirdja Setiabudi.

 

Penulis: Bambang Wahyu Widayadi

infogunungkidul

Recent Posts

Polisi Terbitkan DPO Pelaku Pengeroyokan Pelajar 16 Tahun

YOGYAKARTA - RABU PON | POLRES Bantul resmi menerbitkan Daftar Pencarian Orang atau (DPO) terhadap…

5 jam ago

Diduga Rem Blong, Sepasang Lansia Terjun ke Selokan Sedalam 3 Meter

GUNUNGKIDUL – SENIN PAHING, Diduga kehilangan kendali, sepasang suami istri lanjut usia alami kecelakaan tunggal…

2 hari ago

Beat Vs Smash, Dua Pengendara Dilarikan Ke Rumah Sakit

NGLIPAR - SENIN PAHING, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

3 hari ago

Indikasi Praktik Manipulasi TPR Baron, DPRD Minta Audit Menyeluruh

GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…

1 minggu ago

Lupa Matikan Kompor, dua Rumah Ludes Terbakar Berikut Perhiasan dan Uang Tunai

TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…

1 minggu ago

Janabadra Club Dorong Sinergisitas Alumni Nasional untuk Kontribusi Almamater dan Bangsa

YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…

1 minggu ago