PERISTIWA

Kemungkinan Mewabahnya Anthrax Telah Diperingatkan Sejak 1400 Tahun Lalu

WONOSARI – Minggu Legi | Hanya sedikit yang sudi memperhatikan, bahwa sesungguhnya kemungkinan merebaknya anthrax telah diberitahukan sejak abad 14. Kuncinya ada pada kata ‘bangkai’.

“Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu, bangkai, darah, daging babi, dan daging hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa tetap memakannya, bukan karena menginginkannya, dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah maha pengampun maha penyayang,” demikian peringatan itu diturunkan pada Suart Al-Baqarah ayat 173.

Peringatan yang sama diulang hingga tiga kali di dalam Al-Mai’dah 3, Al-An’am 143, dan Al-Nahl 115.

Meskipun peringatan itu tidak secara nyata menyebut anthrax, namun secara tidak langsung, di dalamnya tersirat rambu-rambu. Jika manusia dengan sengaja memakan bangkai, maka ada resiko besar tertular penyakit. Sangat mungkin, bahwa penyakit tersebut bukan hanya anthrax.

Anthrak, di Kabupaten Gunungkidul menjadi endemi yang disebut sebagai  keberadaan suatu penyakit yang ditmbulkan akibat merebaknya wabah atau infeksi pada suatu wilayah atau daerah tertentu.

Fakta menunjukkan anthrax menyerang berbagai populasi ternak yang ada pada wilayah yang rawan penyakit di Gunungkidul.

Hj. Badingah, S.Sos turun tangan, dari sisi kemungkinan kerugian ekonomi peternak dan pedagan kuliner dengan cara kampanye makan daging sapi bebas anthrak.

“Makan saja, gak apa-apa,” ujar Bupati Gunungkidul.

Apakah anthrax berhenti mewabah, setelah Badingah melakukan kampanye makan daging sapi di rumah makan Sakinah di Bedoyo, Ponjong? Malah sebaliknya, sapi mati terjadi secara beruntun.

Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) terkait sibuk membantah, bawa sapi mati mendadak belum tentu terjangkit spora anthrak.

Fakta lain, Dinas Tanaman dan Pangan, dalam hal ini Seksi Peternakan, mengaku telah meyediakan faksin antibiotik juga formalin untuk melawan spora penyebar anthrax.

Drh. Retno Widiastuti, Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesmavet Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan menyatakan, telah menyiapkan  15.000 dosis faksin, formalin 5.000 liter, dan antibiotik, vitamin sebanyak 10.000 dosis.

Hinga posisi 26 Januari 2020, Pemda Gunungkidul terlihat belum berhasil membendung endemi anthrak.

Kebiasaan makan ‘bangakai’ sesuai peringatan yang dilansir sejak 1.400 tahun silam, tidak ada salahnya kalau itu diperhatikan semua pihak  sebagai upaya pencegahan penyebaran spora anthrax. (Red)

infogunungkidul

Recent Posts

Pertamina Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Hingga 2026 PT

PT PERTAMINA Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026,…

20 jam ago

Tabrak Honda Beat, Seorang Pelajar Meninggal Dunia di TKP

GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

1 minggu ago

JAPFA dan LPER Resmikan Kemitraan Strategis

GUNUNGKIDUL - KAMIS PON, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Koperasi Produsen Usaha Lembaga…

1 minggu ago

UNS Wisuda 1.082 Mahasiswa Periode VII Tahun 2026

SURAKARTA - MINGGU WAGE, UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Surakarta mewisuda sebanyak 1.082 mahasiswa di Auditorium…

2 minggu ago

Unjuk Rasa di Yogya Berlangsung Aman

YOGYAKARTA - JUM'AT PAHING, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan, aksi demontrasi yang berlangsung pada siang hingga…

2 minggu ago

Pendidikan Khas Kejogjaan Masuk Kurikulum Perguruan Tinggi

YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X secara…

3 minggu ago