GUNUNGKIDUL-SABTU PON | Skema pranata mangsa berbentuk kerucut yang ditemukan Raja Surakarta Ke-6 bukan karya sembarang karya.
Skema tersebut diciptakan pada era kolonial Hindia Belanda. Gubernur Jendral yang berkuasa menurut Wikipedia adalah Johanes van den Bosch.
Empat musim yang disajikan sebagai patokan mengolah lahan dan mengolan hasil panen dibagi empat.
Di bagian kanan skema tertulis Mangsa Ketiga dan Manga Labuh. Hal ini bersamaan dengan Bulan Masehi 21 Juni hingga 21 Desember. Rentang waktunya 183 hari.
Belahan kanan skema disebut Mangsa Rendheng dan Mangsa Mareng. Rendheng diawali 22 Desember. Mareng berakhir 20 Juni. Rentang waktu sepanjang 182 hari.
Putaran hari untuk tahun Pranata Mangsa adalah 365 hari, ketika Februari hanya sampai tanggal 28.
Apakah Raja Surakarta Ke-VI, yang bergelar Pakubuwana Ke-VII itu terpengaruh pendidikan Barat, tidak ada penjelasan rinci. Yang pasti, karya ciptanya tidak bisa dibilang karya main-main.
Sayangnya sebagian pengamat menilai, kakender pranata mangsa tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Penilaian tersebut tidak tepat, karena perhitungan pranata mangsa menunjukkan konsistensi yang luar biasa.
Raja Surakarta yang jejuluk Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Ingkang Jumeneng kaping Pitu ing Nagari Surakarta Hadiningrat itu memberi patokan, bahwa mangsa Ketiga dan Mangsa Labuh merupakan peluang mengolah lahan, terutama pada bulan Karo, Ketelu, Kapat, Kalima dan Kanem.
Upacara lepas panen, oleh sebab itu yang banyak dilakukan petani Gunungkidul adalah Juni dan Juli kalender Masehi.
Perhitungan perputaran alam tidak berubah, masih dalam koridor seperti yang diuraikan Pakubuwono ke VII. Dan sebagian pemerhati musim masih menghargai karya raja Surakarta tersebut.
Malikis Solikin, nama kecil Pakubuwa Ke-VII adalah intelektual yang sangat berbakat dalam membuat perhitungan teknis. Itu terlukis dalam skema penanggalan Jawa.
Skema tersebut bentuknya dua kerucut segi tiga sama kaki. Yang satu tegak berdiri yang lain dijungkir ke bawah, kemudian alas dipertemukan.
Kalau bukan intelektual terdidik tidak akan mampu membuat skema serupa itu.
Soal kapan petani memulai bercocok tanam patokannya ditulis dalam skema Rendheng, bulan Kepitu, Kewolu, Kesanga, Kasepuluh, Desta dan Sada, kadang hingga bulan Kasa.
Petani Gunhngkidul sebagian meninggalkan warisan budaya Raja Surakarta, tetapi faktual mereka secara tidak langsung banyak melakoni patokan itu.
Sebut contoh, petani Gunungkidul dalam menanam ketang kleci mulainya pasti bulan kasepuluh bersamaan dengan Maret, karena Maret adalah Mangsa Mareng ditandai bunyi Gareng pung. Belum ada cerita kentang kleci ditanam di bulan Karo bersamaan dengan Agustus bulan Masehi.
Kalaupun ada yang mencoba, dengan alasan membuat strenan, pasti gagal tidak akan panen.
Di sini terlihat, bahwa tahun Pranata Mangsa temuan Pakubuwa Ke-VII bermanfaat di bidang pertanian.
(Bambang Wahyu)
GUNUNGKIDUL – SENIN PAHING, Diduga kehilangan kendali, sepasang suami istri lanjut usia alami kecelakaan tunggal…
NGLIPAR - SENIN PAHING, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…
TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…
YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…
YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…