PEMERINTAHAN

Memilih Materi Hari Jadi Gunungkidul Tidak Bisa Asal-Asalan

WONOSARI-JUMAT WAGE | Mantan Sekda Gunungkidul pada era Bupati Badingah, Budi Martono mengkritisi agenda peringatan Harijadi Gunungkidul ke-191.

Mengisi momentum Hari Jadi tidak akan sempurna kalaupun hanya diserahkan kepada jajaran birokrasi.

Dalam hal itu harus ada pelibatan tokoh yang berkepentingan di bidang kebudayaan, karena Hari Jadi erat kaitannya dengan sejarah, peradaban dan kebudayaan.

Budi Martono berpendapat, di samping tak ada kejutan, Harlah hanya dipandang sebagai kegiatan serimonial, tidak seiring dengan tajuk yang dipilih: Kridhaning Makarya.

“Menjadi hambar jika Hari Jadi hanya dipandang sebagai seremonial saja.
Mestinya, hari jadi itu dimaknai sebagai sebuah momentum bersejarah yang menjadi peringatan hari kelahiran bagi masyarakat daerah. Ini penting untuk menambah rasa memiliki demi kemajuan masyarakat dan pemerintah daerah.
Hari jadi harus menjadi spirit baru untuk perubahan Gunungkidul kearah yang lebih baik, khususnya dalam hal kesejahteraan dan kemakmuran rakyat,” ulas Budi Martono, (13-5-2022).

Dia menduga, peran Sekda, Asisten, Staf Ahli, dan Kadinas enggan memberikan masukan kepada Bupati sehingga peringatan ke-191 tidak ada perbedaan dengan tahun sebelumnya.

Sebenarnya, menurut Budi Martono Pemkab Gunungkidul mampu memberi penghargaan kepada para tokoh yang potensial ikut membangun Bumi Handayani.

Banyak tokoh yang seharusnya diberi penghormatan atau penghargaan atas kiprahnya, dalam menggerakkan pembangunan.

Sebut saja, kata Budi Martono, Tokoh masyarakat, Figur LSM, Inisiator Desa Wisata Mandiri, Awak Media, Mantan Pejabat, Mantan Penewu, Lurah, Komunitas Seni, Komunitas Difabel, dan yang lain.

“Pemberian penghargaan seiring dengan tekad Gunungkidul Membangun sebagaimana janji politik sewaktu Bupati melakukan kampanye,” tandas Budi Martono.

Hal itu menurutnya merupakan bagian tak terpisahkan dari indeks pembangunan manusia dalam arti luas.

Kreatifitas peringatan Hari Jadi, seyogyanya muncul dari sejumlah Organisasi Perangkat Daerah, sehingga kekayaan budaya lebih bervariasi yang mencerminkan khas kegunungkidulan.

Kirab budaya bukan sesuatu yang pamali, tetapi dari sisi manfaat perlu dipertimbangkan. Biaya yang besar, kalau bisa untuk mensuport sektor yang lebih maslahat bagi rakyat.

“Berfikir ke arah itu tidak mudah, tetapi harus dilakukan,” pungkas Budi Martono. (Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Mencuri Motor, Warga Gunungkidul Ditangkap Polisi

BANTUL - RABU PON, SEORANG pria berinisial AS (34) warga Panggang, Gunungkidul, ditangkap polisi usai…

4 menit ago

Lemot Buka Rekam Medis, RSUD Wonosari Disomasi

GUNUNGKIDUL-RABU PON, Terkait dugaan penahanan atau penundaan pemberian salinan rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah…

11 jam ago

Keluarga Besar Partai Golkar Berduka, Tokoh Politik Senior Berpulang

GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, Salah satu putra terbaik Gunungkidul, sekaligus tokoh politik senior, Drs. HM.…

1 hari ago

Smart Batik Indonesia Kembangkan Ekosistem Batik Sawit di Yogyakarta

YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…

4 hari ago

Dugaan Malpraktik RSUD Wonosari akan Dibawa ke-Majelis Disiplin Profesi

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…

4 hari ago

Veda Ega Pratama Pembalap Indonesia Asal Gunungkidul Mengukir Sejarah Besar

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…

4 hari ago