Mencintai Gunungkidul Dengan Landasan Besar Proklamasi 17 Agustus 1945

251

KARANGMOJO – Rabu Pahing | Dalam jamuan singkat buka bersama, Selasa 21 Mei 2019, Mayor Sunaryanta menyinggung soal Nasionalisme di depan 50 santri dan Kyai Tarekat Shiddiqiyyah.  Kyai Jazuri, ketua  Tarekat  Shiddiqiyyah memaknai, bahwa nasionalisme itu identik dengan cinta tanah air.

Pengasuh pondok pesantren yang bermarkas di Padukuhan Plumbungan, Karangmojo ini menyatakan, nafas cinta tanah air itu ada di dalam naskah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Gagal Nyalip Mobil, Tarno Meregang Nyawa

“Di sana, di dalam naskah Proklamasi tersirat nasionalsme, tersirat cinta tanah air. Formulasi kalimatnya cukup jelas, Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Perhatikan dengan cermat, tandas Kyai Jazuri, idemoatika Bangsa Indonesia mengisyaratkan  roh atau jiwa amor patria (cinta tanah air).

Organisasi keagamaan Tarekat Shiddiqiyyah, menurut Kyai Jazuri  mengajarkan nilai nasionalisme, nilai cinta tanah air dengan cara mengamalkan ajaran Rosululloh SAW.

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, lanjut Kyai Jazuri, muncullah bentuk negara, yang kemudian populer dengan sebutan NKRI.

“Tetapi semangat mencintai tanah air, semangat nasionalime itu dijiwai oleh proklamasi, bukan oleh yang lain,” ujarnya memastikan.

Diturunkan dalam bentuk analogi, mencintai Gunungkidul landasan besarnya adalah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Bambang Wahyu Widayadi




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.