OPINI

MENELUSURI HANCURNYA TOBONG GAMPING DI GUNUNG KIDUL

WONOSARI-SABTU PAHING | Seorang penulis yang tidak memahami perkembangan ekonomi di Gunungkidul tahun 1960-1970, meleset menyimpulkan, bahwa Tobong Gamping di Siluk Kapanewon Panggang dianggap sebagai menara pengintai peninggalan penjajah Belanda atau Jepang.

Pemda Gunungkidul, yang secara Ketatanegaraan digawangi Eksekutif dan Legeslatif pun tidak pernah menyadari, bahwa lenyapnya peradaban Tobong Gamping adalah karena Perda yang mengatur keberadaan tambang galian C.

Perda defakto dejure mengubah tobong tradisional menjadi tobong moderen untuk mengejar pendapatan asli daerah.

Sejak Pemerintahan berada di tangan KRT Harjo Hadinegoro (Youtikno) tobong gamping moderen makin rakus mengeruk batu gamping di sektor timur Gunungkidul seperti di Ponjong dan Semanu.

Pada masa Bupati KRT Joyodiningrat tahun 1959 hingga 1974, tobong gamping tradisional tumbuh subur di Gunungkidul.

Carik Desa Gading, Kapanewon Playen terbilang sebagai dedengkot Tobong gamping tradisional. Dia berkantor di rumah, persisnya di simpang empat Gading, pojok Bangjo.

Tobong gamping tradisional yang dia kelola berada di Beji Wero, dengan satu armada truk Batu Putih untuk keperluan mobilisasi. Carik Gading mulai bergerak sekitar tahun 1965.

Untuk Kapanewon Wonosari, tobong gamping besar ada di Desa Karangrejek, pemiliknya Pawiro Saman, tahun 1974 masih berproduksi.

Secara administratif tidak ditemukan data akurat, tetapi tobong gamping tradisional terdapat juga di Siluk Kapanewon Panggang, Tepus, Tanjungsari dan yang lain.

Mengapa Tobong gamping tradisional hancur? Di depan tadi telah disebutkan bahwa Perda produk Eksekutif dan Legeslatif secara tidak langsung membenturkan Tobong tradisional dengan tobong moderen, sehingga yang tradisional tergilas habis.

Para pegiat lingkungan pernah mengingatkan Bupati Youtikno untuk tidak awur-awuran menggempur gunung gamping dengan alasan mengejar pendapatan asli daerah.

Sementara itu Youtekno menjawab ringan bahwa gempuran bisa direklamasi dengan cara menguruk dengan tanah. Alasan Youtikno tidak terealisasi, karena dia keburu masuk panjara sebab kasus perahu fiktif.

Tahun 2022 Tobong Gamping tradisional mau dimonumenkan di bundaran Siyono. Pertanyaan sederhana: Pemda Gunungkidul ini sadar atau tidak bahwa yang menghancurkan Tobong Gamping tradisional adalah dirinya sendiri. (Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

15 menit ago

28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…

3 hari ago

“Adu Banteng” Vario Vs Supra dua Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

1 minggu ago

Gorok Leher Sendiri, Pria Asal Gunungkidul Ditemukan Tewas

SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…

1 minggu ago

Waspada! Diduga Ulah Maling, 3 Warga Nglipar Kehilangan Emas dan Uang Tunai

GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…

2 minggu ago

Adu Banteng CBR Vs Supra, Satu Korban Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SABTU WAGE, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua sepeda motor terjadi di Perempatan…

3 minggu ago