BUDAYA

Menjaga Kesakralan, Bukaan Cupu Kyai Panjolo Beda dari Biasanya

PANGGANG – SABTU PAHING | Momen sakral pembukaan Cupu Kyai Panjolo yang dinantikan oleh masyarakat Gunungkidul khususnya dan Yogyakarta pada umumnya, sebentar lagi akan terlaksana. Namun demikian, sebagian warga menyayangkan atas pelaksanaan tradisi tersebut.

Bagai mana tidak? adat tradisi yang menggambarkan nasib maupun ramalan yang akan terjadi selama setahun kedepan tersebut pelaksanaanya berbeda dengan tahun sebelumnya.

Menurut informasi yang didapat, hasil rapat panitia dengan keluarga Trah Kyai Panjolo tersebut memutuskan bahwa untuk pelaksanaan pembukaan Cupu Kyai Panjolo di tahun ini tidak diijinkan untuk dilakukan Live Striming, Jumat (20/10/2023).

Hal tersebut disampaikan oleh salah satu panitia sekaligus Dukuh, Anjar berujar, bahwa keputusan larangan dilakukan Live Striming tersebut bertujuan untuk menjaga kesakralan ritual pembukaan Cupu Kyai Panjolo.

“Media hanya dari Kalurahan dan Dinas terkait, tapi tetap tidak boleh Live Striming,” ujarnya.

Rapat persiapan pembukaan Cupu Kyai Panjolo yang dihadiri oleh berbagai pihak antara lain dari Kapanewon, Polsek, Koramil, Pamong, Lembaga Kalurahan, Tokoh masyarakat serta Trah Kyai Panjolo tersebut dilaksanakan di kediaman Lurah Girisekar Sutarpan di Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Selain itu, acara yang akan digelar pada malam Selasa Kliwon (30/10/2023) tersebut juga melarang penggunaan atribut ParPol maupun atribut sejenisnya.

Namun demikian, ritual sakral yang rencananya akan dihadiri dari pihak Kasunanan Surakarta dan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta serta Pejabat Kabupaten tersebut sangat disayangkan oleh warga yang berada di perantauan.

Lantaran adanya larangan Live Striming, tentu momen yang mereka tunggu-tunggu tersebut kandas.

Sebagian warga yang ada di perantaun berharap agar pelaksanaan pembukaan Cupu Kyai Panjolo dapat disiarkan langsung melalui Live Striming, sehingga mereka dapat mengenalkan adat tradisi tersebut kepada anak cucu mereka.

Selain itu, menjaga kelestarian budaya merupakan kewajiban seluruh warga tak terkecuali mereka yang ada di perantauan.

(A Yuliantoro)

infogunungkidul

Recent Posts

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

6 hari ago

28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…

1 minggu ago

“Adu Banteng” Vario Vs Supra dua Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

2 minggu ago

Gorok Leher Sendiri, Pria Asal Gunungkidul Ditemukan Tewas

SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…

2 minggu ago

Waspada! Diduga Ulah Maling, 3 Warga Nglipar Kehilangan Emas dan Uang Tunai

GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…

3 minggu ago

Adu Banteng CBR Vs Supra, Satu Korban Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SABTU WAGE, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua sepeda motor terjadi di Perempatan…

4 minggu ago