Menyimak Motif Politisi Lompat Pagar

82

WONOSARI, JUMAT LEGI-Pemilu 2019, secara Nasional diwarnai gerakan politisi pindah parpol. Ini bukan fenomena anyar, karena hal serupa pernah terjadi pada era Orde Baru. Yang membedakan adalah soal jumlah dan motif.

Riwan Saidi, putra Betawi anggota DPR RI, politisi PPP bergeser ke Golkar di tahun 1990-an. Alasan kepindahan, dia merasa sejalan sekaligus nyaman dengan platform Golkar kala itu.

Pada era Reformasi, Siti Hediati Suharto berpindah dari Golkar ke Partai Berkarya, memperkuat partai yang didirikan Tomy Soeharto adik kandungnya karena dia merasa tak sejalan dengan kebijakan Golkar saat ini.

Di level DIY, Drs. Sutata dari PAN menyeberang ke Gerindra, kemungkinn besar karena persoalan kekuasaan. Dia di-PAW pada paruh jalan jabatannya.

Pada tataran DPRD Gunungkidul lebih banyak lagi. Suharno, SE dari PDIP, Sarmidi PAN, Tina Chadarsi dari Partai Golkar. Motivasi kepindahan mereka pun berbeda-beda.

Kepindahan Suharno, SE, faktual menyimpan sejumlah pertanyaan. Mengapa dia kurang disenangi PDIP, sampai saat ini belum terjawab. Secara tiba-tiba Suharno diusulkan dicoret dari pencalegan, berujung pada pemecatan.

Sarmidi, cukup jelas, dia melawan partai yang menaungi karena persoalannya mirip dengan peristiwa yang dialami Drs. Sutata.

Tina Chadarsi sangat berbeda dan unik. Kedudukannya terbilang mapan di Partai Golkar tiba-tiba nyelonong ke Partai Berkarya. Anggota DPRD Gunungkidul yang satu ini, menurut beberapa pengamat sangat absurd. (Agung)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.