PENCURIAN beras impor milik Bulog diduga bermotif ekonomi, tetapi tidak tertutup kemungkinan adanya motif politik. Penyelidikan masih berproses.
Dikutip dari berbagai sumber, Indonesia merupakan produsen beras terbesar keempat di dunia.
Di Asia Tenggara, Indonesia bahkan disebut sebagai produsen nomor satu, tetapi tahun 2022 Bulog masih impor beras dari India Vietnam, Myanmar dan Thailand.
Celakanya beras impor tersebut digasak oleh para tikus. Dipastikan tikus-tikus itu tahu betul bagaimana Bulog memasang sistem pengaman, sehingga mereka bebas mengusung bagor beras keluar dari gudang.
Estimasi produksi beras Indonesian 34,6 juta metrik ton pada musim 2022 / 2023 belum cukup untuk mensuplai 270 juta mulut.
Kabar terbaru, Direktur Perum Bulog Budi Waseso melakukan impor beras sebanyak 350,1 ribu ton.
Pemerintah melakukan impor beras, meski itu terus dikritik DPR, tetapi demi melindungi segenap bangsa, terus berlanjut dan tidak bisa disalahkan.
Diperhitungkan, bila impor beras tidak dilakukan, maka akan terjadi kelangkaan pangan, yang ujung-ujungnya terjadi kesengsaraan di kalangan rakyat.
Langka beras bisa menimbulkan kondisi yang lebih serem yaitu:
1. Stabilitas negara terganggu.
2 Wibawa pemerintah terancam.
3. Presiden Joko Widodo tidak sampai 2024.
Dalam hal ini bisa disebut makar model anyar dari sisi pangan.
Jika hal itu yang terjadi, maka motif para tikus tidak hanya sebatas mengeruk keuntungan pribadi (ekonomi) tetapi juga keuntungan politik.
Pertanyaannya adalah bisakah Polisi menemukan kemungkinan motif politik? Itu pasti tergantung pada temuan data yang masih terus dikumpulkan dalam proses penyelidikan.
Tujuh tikus beras Bulog telah berhasil diamankan Polisi. Mereks sedang dikorek untuk menemukan otak intelektual yang menggerakkannya, karena secara teori tujuh tikus itu hanya pelaksana teknis. Di belakang mereka pasti ada Bos Besar.
Big Bos itu pebisnis tulen apa dibentengi politisi, adalah perkara yang tidak patut dianggap sepele.
Fakta mencurigakan, mengapa pencurian beras jaraknya begitu dekat dengan tahun politik. Jika pencurian itu bermotif ekonom saja, logikanya dilakukan sejak dulu.
Dari analisis peralatan yang berhasil disita polisi, patut diduga, bahwa komplotan tikus itu profesional. Mereka telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.
Jika yang diburu keuntungan ekonomi, tentu saja mengobrak-abrik gudang beras bukan sesuatu yang sulit. Tidak perlu menunggu dan menunda waktu. Untuk mengeruk keuntungan besar, pebisnis biasanya selalu bergerak cepat, tidak perlu menunggu dekat dengan 2024.
(Bambang Wahyu)
GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, SEBANYAK 18 unit rumah dinas Batalyon C Pelopor Satuan Brimob Polda…
YOGYAKARTA - SELASA PAHING, Aipda S seorang oknum anggota polisi Polsek Kraton menjalani pemeriksaan Propram…
GUNUNGKIDUL - KAMIS PAHING, Hari Jadi Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan yang ke-93 menggelar bazar UMKM,…
GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON, GEMPA bumi dengan kekuatan Magnitudo 3,0 mengguncang Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah…
PT PERTAMINA Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026,…
GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…