OPINI

BANJIR, TANAH LONGSOR, PUTING BELIUNG BUAH TANGAN MANUSIA

BUMI yang dihuni manusia banyak ditumbuhi kayu. Penanamnya, sebagian memang manusia, tetapi dalam hal menumbuhkannya manusia tidak punya kekuatan apa pun.

Suara dari balik Langit bertanya, “Kamukah yang menumbuhkan kayu itu, ataukah Kami yang menumbuhkan?” (Al-Waqi’ah 72).

Dalam hal menumbuhkan kayu, terlihat keagungan dan kebesaran maha. Kekuatan itu tidak ada dalam genggaman manusia.

Dituturkan, kulit bumi awalnya tandus dan mati. Bagaimana dia kemudian subur menghijau dan berkembang menjadi paru-paru dunia.

Menumbuhkan dahan dan ranting di atas hamparan tanah tandus itu soal mudah, cukup dengan air hujan.

“Kemudian Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis aneka macam tumbuh-tumbuhan.”
(Ta-Ha: 53).

Itu salah satu esensi hujan menyiram bumi. Namun begitu dia kemudian didakwa mendatangkan banjir, tanah longsor dan bencana.

Apakah hujan itu menyimpang? Atau Hujan itu ekstrim? Sama sekali tidak. Yang menyimpang dan ekstrim adalah manusia.

Hutan Kalimantan jutaan hektar dibabat, dengan alasan yang dibenar-benarkan. Akibatnya alur angin terganggu. Peredaran musim tidak tepat waktu. Cuaca berubah.

Wonosari sebagai ibukota Kabupaten Gunungkidul pada era 1970-an tidak ada cerita diterjang banjir. Pada rezim Reformasi setiap musim basah, kota kecil itu menjadi langganan banjir. Mengapa?

Hal demikian tidak lepas dari perilaku penghuni Bumi Handayani yang:
1. Menebang kayu tak terkendali;
2. Menutup pori-pori bumi dengan semen dan aspal sesuka hati;
3. Mempersempit selokan semaunya.
4. Menanam tanaman semusim pada sempadan sungai dan lainnya.

Dalam posisi seperti itu, air hujan harus lewat mana? Tabiat air dari langit itu kemudian transit di tempat-tempat yang rendah, sebelum dia kembali ke laut selatan.

Sesungguhnya manusia itu di bumi banyak berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” (Al-Baqarah: 11)

Membabat jutaan hektar hutan atas nama kebaikan itu hanya tipu muslihat. Mereka menipu Allah, padahal mereka hanya menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Akibatnya banjir, tanah longsor, puting beliung terjadi di mana-mana.

(Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Belasan Rumah Dinas Brimob Polda DIY Dibangun di Gunungkidul

GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, SEBANYAK 18 unit rumah dinas Batalyon C Pelopor Satuan Brimob Polda…

1 hari ago

Viral Kasus Bolosego, Oknum Polisi Dipatsus

YOGYAKARTA - SELASA PAHING, Aipda S  seorang oknum anggota polisi Polsek Kraton menjalani pemeriksaan Propram…

2 hari ago

Hari Jadi Karangasem, Puluhan UMKM Gelar Bazar

GUNUNGKIDUL - KAMIS PAHING, Hari Jadi Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan yang ke-93 menggelar bazar UMKM,…

6 hari ago

Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Gunungkidul

GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON, GEMPA bumi dengan kekuatan Magnitudo 3,0 mengguncang Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah…

1 minggu ago

Pertamina Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Hingga 2026 PT

PT PERTAMINA Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026,…

2 minggu ago

Tabrak Honda Beat, Seorang Pelajar Meninggal Dunia di TKP

GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

3 minggu ago