MUSUH DALAM SELIMUT, MENGGUNTING DALAM LIPATAN

898

PERADABAN manusia tertua dimulai ketika Nabi Adam Alaihis salam turun ke dunia.

Peradaban tersebut berupa “permusuhan”.

“Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain,” begitu sebuah ketetapan dituliskan.

Bukan perilaku aneh, jika di antara manusia kemudian saling bermusuhan.

Disebutkan secara jelas dalam Al Qur’an bahwa musuh paling nyata adalah setan.

Makhluk itu tidak kasat mata, tetapi ada pula yang berwujud manusia.

Yang membisikan kejahatan ke dalam dada manusia (untuk saling bermusuhan) itu adalah golongan jin dan manusia.

Fakta paling nyata musuh bangsa Indonesia adalah Cina, yang kini dirangkul sebagai teman.

Cina berusaha menguasai dunia melalui jalur sutra, baik laut maupun darat.

Dikutip dari berbagai sumber, jalur sutra adalah sebuah rute perdagangan internasional kuno yang berasal dari peradaban Tiongkok yang menghubungkan antara Barat dan Timur. Jalur sutra merupakan rute penghubung yang mempertemukan antara pedagang berasal dari barat dan timur untuk melakukan aktifitas perdagangan.

mengutip pikiran Alfian Tanjung, Cina demikian getol mengurug laut pantai Utara Jakarta, Bali Morowali Sulawesi, dan sebentar lagi Kalimantan Timur merupakan langkah dalam menyiapkan pelabuhan untuk memperlancar perdagangan aneka produk, termasuk narkoba.

Syahwat ekonomi bukan dirancang dan dilakukan dalam satu atau dua hari, tetapi sejak Kerajaan Singasari. Tentara Tar Tar di bawah Kubilai Kan menggertak Kertanegara di abad ke-11 untuk ekspansi pasar.

Tidak terlalu salah jika Emha Ainun Nadjib menyatakan bahwa perekonomian Indonesia saat ini dikuasai Qarun, simbolisme ekonom yang hidup mewah di zaman Raja Fir’aun.

Secara politik Indonesia merdeka, tetapi secara ekonomi dikuasai musuh, dan itu orang (bangsa) lain.

Kemerdekaan ekonomi sulit dicapai karena utang Indonesia seperti ditunjukkan ekonom senior Didik J. Rachbini sejak 2014 hingga November 2022 melambung hingga 189,5%.

Musuh yang secara sosiologis bersikap sangat baik, ke depan dipastikan tidak segan menggunting dalam lipatan.

Presiden Indonesia Ke-8 adalah orang yang berani mengatakan TIDAK pada PENGUTANG.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.