KARANGMOJO – SABTU KLIWON | Seperti halnya simbol daerah terdapat lambang tanaman ubi kayu, yang menjelaskan sebagian besar lahan di Kabupaten Gunungkidul memproduksi ubi kayu. Produksi ubi kayu Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2020 cukup melimpah, hal tersebut terlihat saat safari ubinan panen ubi kayu oleh Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul.
Ubinan panen ubi kayu di Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Rejeki Dusun Jetis Kalurahan Karangmojo, Kapanewon Karangmojo dilaksanakan pada Selasa, (18/08/2020) oleh petugas pertanian kapanewon bersama Poktan dan Dinas Pertanian dan Pangan.
Hadir dalam giat tersebut Kepala DPP Gunungkidul, Ir. Bambang Wisnu Broto beserta jajaran, Jawatan Kemakmuran Kapanewon Karangmojo, Lurah Karangmojo, Babinsa dan Babinkamtibmas, Penyuluh Pertanian Lapangan BPP Karangmojo dan poktan Ngudi rejeki beserta anggota.
Ketua Poktan Ngudi Rejeki Zon Kelvin melaporkan, bahwa hasil ubinan panen ubi kayu menunjukkan 16,3 kg/ubin atau setara 26,2 ton/ha.
“Padi 34 ha menghasilkan panen 55,75 ku/Ha GKG dan produksi 191 ton, Jagung 35 ha memproduksi 178,8 ton dengan profitas 50,8 ku/ha. Lalu Kacang tanah 60 ha produksi 76,13 ton profitas 12,2 ku/ha. Dan Ubi Kayu 37,8 ha dengan profitas 26,2 ton/ha dan produksi 990,36 ton,” tambahnya.
Ia menjelaskan, luas lahan di Jetis meliputi sawah tadah hujan 6 Ha dan lahan kering 30 Ha dengan pola tanam padi-padi-palawija di lahan sawah, dan padi-palawija-palawija di lahan kering.
Terpisah kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan, dirinya bersama petugas pertanian lapangan telah melaksanakan safari ubinan panen ubi kayu tumpangsari palawija di beberapa kapanewon, dengan rata-rata produksi meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Bambang menjelaskan, hasil poktan Ngudi Tani, Pendem, Sumberejo, Semin produktifitas ubi kayu Klentheng mencapai 27,6 ton/ha dan ubi kayu Mandarin/Lampung mencapai 24,8 ton/ha, selanjutnya di poktan Sedyo Maju dusun Nangsri Lor, Desa Candirejo, Kapamewon Semanu panen ubi kayu varitas Gajah dengan profitas 37 ton/ha.
Kemudian di poktan Lestari Makmur, Kotekan, Purwadadi Tepus ubi kayu Dworowati menghasilkan profitas 26,08 ton/ha dan ubi kayu Pandesi dengan profitas 28,48 ton/ha,
Dilanjut Bambang, hasil panen tertinggi yakni poktan Ngudi Makmur, Keruk III, Banjarejo, Tanjungsari panen ubi kayu varitas lokal Gatotkaca dengan profitas 43,6 ton/ha , ubi kayu Malang 6 dengan profitas 28,1 ton/ha, ubi kayu Dworowati profitas 38,4 ton/ha.
Bambang berharap, produktifitas ubi kayu di petani bisa ditingkatkan dengan teknologi pemupukan individu terhadap ubi kayu dan pembumbunan/ngrimpu agar umbi lebih bisa berkembang.
“Dari hasil ubinan diatas 20 ton/ha umbi basah di beberapa kapanewon , kami optimis dengan luas panen sekitar 456.816 ha akan dicapai produksi ubi kayu menyentuh 900.000 ton ubi kayu basah, bahkan mungkin bisa mencapai 1 juta ton seperti di tahun 2016. Dengan harga di pasaran mencapai Rp 1.000,- per kg umbi basah sehingga sumbangan produksi ubi kayu terhadap PDRB Kabupaten Gunungkidul sangat berarti,” tutup Bambang (ERTi)













