Pertanyaan berikutnya, bagaimana supremasi sipil yang didengungkan saat reformasi 1998. Civil Society (masyarakat madani) bisakah terwujud berseiring dengan Kepala Daerah berlatarbelakang militer?.
Dikotomi (pembedaan secara tajam: red) sipil militer, kembali menguat pada perbincangan petang, yang difasilitasi Slamet, S.Pd. MM, anggota DPRD DIY yang Oktober 2019 ini harus pensiun.
Apakah Kandidat Kepala Daerah berlatar belakang militer cukup berpengaruh terhadap kondisi perpolitikan di Gunungkidul? “Itu harus dibuktikan pada Pemilukada Rabu 23 September, 2020,” ujar Bekti.
Pertanyaan Bekti yang terakhir cukup faktual sekaligus aktual, sebab, Suharjono, (wartawan Sindo Jawa Tengah DIY) mengemukakan, bahwa tokoh sipil seperti Bambang Wisnu Handoyo, secara personal juga mengincar posisi Gunungkidul-1.
Tentunya, demikian kesimpulan sementara diskusi terbatas malam itu, Pemilukada Gunungkidul, Rabu 23 September 2020 akan sangat menarik, karena merupakan perhelatan politik pertama antara sipil dan militer. (Bambang Wahyu Widayadi)
Page: 1 2
GUNUNGKIDUL – RABU KLIWON, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana…
GUNUNGKIDUL – SELASA PON, Seorang laki-laki berinisial S (64), warga Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten, ditemukan…
PALIYAN - MINGGU PAHING, Pengemudi Toyota Inova diduga mengantuk mengakibatkan kecelakaan beruntun di Jalan Paliyan-Saptosari,…
YOGYAKARTA - SABTU LEGI, UNIT Studi Hukum Perdata (USHP) Fakultas Hukum Universitas Janabadra resmi meluncurkan…
GUNUNGKIDUL – SABTU LEGI, Menyongsong libur nasional dan perayaan Paskah 2026, Kepolisian Resor (Polres) Gunungkidul…
GUNUNGKIDUL – RABU PON, Guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi umat Kristiani dalam menjalankan…