PEMUDIK PULANG DENGAN CINTA, PEMERINTAH TIDAK BISA BERBUAT APA-APA

1060

DALAM satu ceramah di media sosial Gus Miftah bertanya kepada Deddy Corbuzier soal asal muasal cinta. Pesulap kepala plontos itu menyatakan dari mata turun ke hati.

Da’i Pasar Kembang itu menyangkal bahwa jawaban Deddy salah besar. Yang benar, kata Gus Mitah, cinta itu dari hati naik ke mata.

Guru ngaji yang penampilannya mirip Sunan Kalijaga itu mengambil contoh tuna netra. Sepasang kekasih tidak pernah melihat apa-apa kecuali warna hitam, tetapi setelah menikah mereka punya anak.

Cinta itu ada di hati, bukan di mata, tegas Gus Miftah.

Analoginya, para pemudik itu punya cinta tentang kampung halaman. Punya cinta pada kedua orang tua. Punya cinta pada sahabat dan handai taulan.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih bertekad menjaga perbatasan agar pemudik tidak masuk daerah Praja Tamansari. Seberapa kuat Bupati anyar itu menahan cinta para pemudik, ditunggu kerja angkuhnya dalam menjaga Kabupaten Bantul.

Moobil bisa dihalangi, sepeda motor bisa disuruh balik kanan oleh para penjaga perbatasan layaknya prajurit keraton jaman dulu.

Perahu cinta tidak akan bisa diturunkan layarnya oleh bedil apalagi cuma seragam Satpol PP.

Akan ada pemudik cerdas. Bermodal renjana alias rindu yang mengeras, mereka jalan kaki menyusuri aspal yang panas.

Tidak setragis Nabi Ibrahim a’laihis salam yang diperintah menyembelih Ismail putra kesayangannya.

Cinta itu adalah anugrah yang dibenamkan ke hati manusia seperti Jibril meletakkannya ke sanubari Rasulullah Muhammad dengan kalimat pendek: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. (Bambang Wahyu Widayadi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.