EKONOMI

Perajin Tahu Gunungkidul : Mengharap Harga Kedelai Stabil dan Pasokan Lancar

WONOSARI-RABU PAHING | Salah satu pengusaha tahu warga Padukuhan Sumbermulyo, Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari, nampaknya terlihat resah. Pasalnya, usaha pembuatan tahu miliknya kini terpukul lantaran melonjaknya harga kedelai impor.

Sakiyo (55) pengusaha tahu mengungkapkan, langkah-langkah cepat pun dilakukan, mulai dari mengurangi bahan baku hingga memperkecil ukuran tahu yang diproduksi. Sedangkan harga tetap dipertahankan, tak mengikuti kenaikan bahan baku.

“Tapi ya sampai sekarang hasilnya tetap minus, sejak sebulan terakhir,” katanya, Rabu (06/01/2021) siang.

Kenaikan harga kedelai impor mulai terasa sejak November 2020 lalu. Kenaikan awalnya mencapai Rp8.500,00 per kilogram, namun kemudian terus meningkat hingga terakhir jadi Rp9.000,00 per kilo. Bersama rekan-rekan sesama pengrajin, Sukiyo sempat berkeinginan untuk menaikkan harga tahu produksinya. Namun melihat situasi yang ada, mereka sepakat mencari cara lain.

“Akhirnya kami pilih mengurangi ukuran hingga bahan baku,” kata Bendahara Paguyuban Industri Tahu Sari Mulyo Kepek ini.

Komunitas pengrajin tahu di daerah lain bahkan ada yang memilih mogok produksi lantaran tingginya harga kedelai impor. Namun Sakiyo menolak opsi tersebut dan tetap melanjutkan produksi dengan kondisi yang ada.

Pasalnya, ia memiliki sejumlah pegawai yang bergantung pada operasional produksi. Situasi pandemi saat ini tentunya membuat mereka membutuhkan penghasilan tetap.

“Bagi kami, mogok produksi tidak menyelesaikan masalah. Malah tidak ada hasil sama sekali,” ujar Sakiyo.

Ia pun berharap ada langkah cepat yang diambil untuk mengatasi masalah ini, termasuk memperlancar pasokan kedelai impor. Pasalnya, kedelai impor yang tersedia saat ini justru di jenis yang paling mahal.

Sebenarnya, Sakiyo menyebut harga kedelai impor normalnya berada di kisaran Rp6.500,00 hingga Rp7.000,00 per kilo. Harga ini menurutnya paling ideal dalam hal menyeimbangkan biaya produksi dan penghasilan.

“Kalau ada harga standar dan stabil, kan lebih enak untuk harga jual tahu yang dihasilkan,” katanya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunungkidul Virgilio Soriano mengatakan pihaknya hanya bisa menunggu kebijakan pemerintah pusat.

Pasalnya, kewenangan mengatur impor kedelai ada di sana. Sedangkan di daerah hanya bisa melaporkan hasil pantauan dari situasi yang ada saat ini.

“Tapi memang sudah kami laporkan ke Pemda DIY, agar bisa diteruskan ke pusat,” kata Virgilio. (Hery)

infogunungkidul

Recent Posts

Mencuri Motor, Warga Gunungkidul Ditangkap Polisi

BANTUL - RABU PON, SEORANG pria berinisial AS (34) warga Panggang, Gunungkidul, ditangkap polisi usai…

4 menit ago

Lemot Buka Rekam Medis, RSUD Wonosari Disomasi

GUNUNGKIDUL-RABU PON, Terkait dugaan penahanan atau penundaan pemberian salinan rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah…

11 jam ago

Keluarga Besar Partai Golkar Berduka, Tokoh Politik Senior Berpulang

GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, Salah satu putra terbaik Gunungkidul, sekaligus tokoh politik senior, Drs. HM.…

1 hari ago

Smart Batik Indonesia Kembangkan Ekosistem Batik Sawit di Yogyakarta

YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…

4 hari ago

Dugaan Malpraktik RSUD Wonosari akan Dibawa ke-Majelis Disiplin Profesi

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…

4 hari ago

Veda Ega Pratama Pembalap Indonesia Asal Gunungkidul Mengukir Sejarah Besar

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…

4 hari ago