Perajin Tahu Gunungkidul : Mengharap Harga Kedelai Stabil dan Pasokan Lancar

93

WONOSARI-RABU PAHING | Salah satu pengusaha tahu warga Padukuhan Sumbermulyo, Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari, nampaknya terlihat resah. Pasalnya, usaha pembuatan tahu miliknya kini terpukul lantaran melonjaknya harga kedelai impor.

Sakiyo (55) pengusaha tahu mengungkapkan, langkah-langkah cepat pun dilakukan, mulai dari mengurangi bahan baku hingga memperkecil ukuran tahu yang diproduksi. Sedangkan harga tetap dipertahankan, tak mengikuti kenaikan bahan baku.

“Tapi ya sampai sekarang hasilnya tetap minus, sejak sebulan terakhir,” katanya, Rabu (06/01/2021) siang.

Kenaikan harga kedelai impor mulai terasa sejak November 2020 lalu. Kenaikan awalnya mencapai Rp8.500,00 per kilogram, namun kemudian terus meningkat hingga terakhir jadi Rp9.000,00 per kilo. Bersama rekan-rekan sesama pengrajin, Sukiyo sempat berkeinginan untuk menaikkan harga tahu produksinya. Namun melihat situasi yang ada, mereka sepakat mencari cara lain.

“Akhirnya kami pilih mengurangi ukuran hingga bahan baku,” kata Bendahara Paguyuban Industri Tahu Sari Mulyo Kepek ini.

Komunitas pengrajin tahu di daerah lain bahkan ada yang memilih mogok produksi lantaran tingginya harga kedelai impor. Namun Sakiyo menolak opsi tersebut dan tetap melanjutkan produksi dengan kondisi yang ada.

Pasalnya, ia memiliki sejumlah pegawai yang bergantung pada operasional produksi. Situasi pandemi saat ini tentunya membuat mereka membutuhkan penghasilan tetap.

“Bagi kami, mogok produksi tidak menyelesaikan masalah. Malah tidak ada hasil sama sekali,” ujar Sakiyo.

Ia pun berharap ada langkah cepat yang diambil untuk mengatasi masalah ini, termasuk memperlancar pasokan kedelai impor. Pasalnya, kedelai impor yang tersedia saat ini justru di jenis yang paling mahal.

Sebenarnya, Sakiyo menyebut harga kedelai impor normalnya berada di kisaran Rp6.500,00 hingga Rp7.000,00 per kilo. Harga ini menurutnya paling ideal dalam hal menyeimbangkan biaya produksi dan penghasilan.

“Kalau ada harga standar dan stabil, kan lebih enak untuk harga jual tahu yang dihasilkan,” katanya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunungkidul Virgilio Soriano mengatakan pihaknya hanya bisa menunggu kebijakan pemerintah pusat.

Pasalnya, kewenangan mengatur impor kedelai ada di sana. Sedangkan di daerah hanya bisa melaporkan hasil pantauan dari situasi yang ada saat ini.

“Tapi memang sudah kami laporkan ke Pemda DIY, agar bisa diteruskan ke pusat,” kata Virgilio. (Hery)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.