SELURUH manusia ditetapkan dalam rahim menurut kehendakNya sampai waktu yang ditentukan. Dia kemudian dikeluarkan sebagai bayi, yang berangsur-angsur dewasa.
Di antara manusia ada yang diwafatkan ketika usia muda, tetapi ada pula yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, sehingga tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya.
Politisi pikun yang nekad berkampanye di dalam masjid, tergolong politisi bingung karena ketakutan tidak mendapat dukungan.
Politisi pikun itu lupa segalanya, bahwa masjid merupakan:
1. Tempat sholat;
2. Tempat untuk menyebut asma Allah;
3. Tempat untuk ber-i’tikaf.
Politisi pikun mengubah masjid menjadi tempat untuk rebutan suara guna meraih kekuasaan.
Politisi pikun takut tidak kebagian kekuasaan identik dengan takut kepada berhala. Masuk ke masjid kok mengagungkan berhala.
Politik identitas yang menginduk kepada falsafah negara, tentu bisa dilakukan di segala tempat, karena formatnya adalah politik berketuhanan, tidak menonjolkan agama tertentu.
Politik berketuhanan esensinya adalah mendahulukan toleransi, bukan egoisme golongan. Tidak seorangpun berani menghalangi politik identitas yang talinya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.
Negara ini mengambil jurus ekonomi identitas yang diamanatkan Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945, Ekonomi disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.
(Bambang Wahyu)
GUNUNGKIDUL - SABTU PON, Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul, dihebohkan…
GUNUNGKIDUL - SABTU PON, Perlakuan kurang menyenangkan bahkan cenderung merugikan menimpa seorang nasabah debitur Bank…
SLEMAN - KAMIS LEGI, SEORANG pria tewas akibat tertemper kereta api di jalur KA KM…
YOGYAKARTA – SELASA WAGE, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta melarang seluruh personelnya menggunakan rokok Elektrik atau…
BANTUL - SENIN PON, KECELAKAAN tunggal yang melibatkan sebuah truk Hino bernomor polisi H-8168-OH terjadi…
SLEMAN - SABTU LEGI, KAPOLRESTA Sleman, Polda DIY AKBP Dhimas Prasetyo membantah adanya informasi yang…