RATAPAN PEREMPUAN PERANTAU: TANGISKU BUKAN TANGISMU

1475

SEBAIK-baiknya tempat pulang, bagiku bukan ke tanah kelahiran, bukan ke Gunungkidul. Seorang perempuan muda, buruh pabrik sarung, di Jakarta,  di-PHK seminggu yang lalu. Dia menulis tangisan hati dalam buku harian.

Kanjeng Sultan Hamengku Buwono ke-10 menerima aku dan keluargaku untuk kembali, tetapi aku bilang tidak.

Karangtarunaku, Dukuhku, juga Lurahku yang dulu mendewakan perantau karena rajin mengisi kas melalui rekening yang bocor ke mana-mana, saat ini menutup rapat seluruh pintu dan gang, tempat dua anak dan suamiku dilahirkan.

Mereka memandangku seperti layaknya seekor anjing kurap yang bermandi kutu.

Perlakuan itu tidak elok, karena menimbulkan  perih  juga sesak di dada, tetapi tak mengapa. Tempat kembaliku yang terbaik bukan ke komunitas orang-orang sombong yang dulu kukenal sangat baik.

Di Karet, kata Chairil Anwar, adalah daerahku yang akan datang. Semua bumi adalah tempat terbaik untuk bertemu dengan-Nya.

INFO HARI INI-PERANTAU SAUDARA KITA, TIDAK TAAT ATURAN DIMINTA TINGGALKAN DESA

Tutuplah semua jalan serapat yang kalian mau. Sampai angin pun tak kan bisa lewat  Tetapi jangan berdusta, sesungguhnya yang tersayat adalah hatimu.

Kalian merindukan kami tetapi belagak pilon. Tak mengapa.

Tangisku, jelas bukan tangismu. Iwan Fals mengajari, nasibku, jelas bukan nasibmu. Tempat kembaliku haya ke hadapan Ilahi Rabbi, tidak ke Gunungkidul yang aku rindui.

Bukan aku yang mulai membatasi, tetapi kalian telah tega menebar benci. Padahal apa yang kalian benci itu di dalamnya ada kebaikan. Mata hatimu saja yang tak mampu melihatnya.

Biarkan aku mati di Jakarta. Atau mati di mana pun juga. Mati tidak harus ditangisi. Mati, bagiku harus dihargai sebagai suratan. Dan takdirku, jelas bukan takdirmu.

Mati bagiku adalah keindahan yang mustahil dirasa oleh orang-orang yang mati rasa.

Bambang Wahyu Widayadi

INFO HARI INI-PEMERINTAH TAK BERTINDAK, WARGA LAKUKAN AKSI BLOKADE




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.