Resto Wulenpari, Bangkitnya Peradaban Maritim Sekala Sungai di Gunungkidul

514
Redianto Heru Nurcahya, politisi Partai Solidaritas Indonesia (Bambang/ig)

INFOGUNUNGKIDUL, SENIN PAHING

WONOSARI, Kabupaten Gunungkidul hampir sepertiga bagian dibelah Sungai Oya, mengalir dari hulu Wonogiri sepanjang 106,75 km, bertemu dengan Sungai Opak di Kabupaten Bantul. Penggal Sungai Oya, pada posisi Jelok-Beji, karena perkembangan pariwisa, oleh salah satu pengusaha kuliner mulai didenyutkan sebagai uratnadi perekonomian.

Aziz, pemilik Angkringan Kopi Item yang mangkal di lor pasar burung Desa Kepek, Kecamatan Wonosari, berpikir sederhana. Berjualan makanan di tepian Oya, selain asyik, sekaligus napak tilas peradaban maritim, kerajaan besar Sriwijaya.

Dihimpun dari berbagai sumber, tahun 1993, Pierre-Yves Manguin melakukan observasi, kemudian berpendapat, bahwa pusat Sriwijaya berada di pinggir Sungai Musi, antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatera Selatan sekarang), tepatnya di sekitar situs Karanganyar yang kini dijadikan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya.

Perekonomian, pada masa kejayaan Sriwijaya, jalur utamanya adalah laut dan sungai. Azis, ketika memutuskan membuka Resto Wulenpari, di Jelok, Beji, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, DIY, terinspirasi Sungai Musi, dengan jembatan Ampera yang khas dan anggun. Perbedaannya, panjang Sungai Oya hanya sepertujuh dari Sungai Musi yang 750 km itu.

Prof. Dr. Basu Swastha Dharmmestha, MBA, 28 Oktober 2018, menulis di papan pesan, “Konsep revolusi idustri 4 sudah merambah di Wulenpari, dalam menyatukan, mendayagunakan teknologi di bidang seni dan kuliner dan lain-lain, untuk NKRI”.

“Inovasi, motivasi dan keyakinan diri adalah bekal yang dahsyat mengantarkan kepada kesuksesan,” tulis Imawan Wahyudi pada tanggal, bulan dan tahun yang sama.

Banyak wisatawan domestik yang telah membuktikan dan mencicipi menu kuliner Wulenpari menyatakan puas. Meski harus berjalan kaki lewat jalan setapak sepanjang 1000 meter,” timpal Redianto Heru Nurcahya, politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) saat berkunjung Minggu sore, (10/2). (Bambang Wahyu Widayadi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.