KLATEN, Minggu Pon – Ratusan warga masyarakat Padukuhan Karangmoncol 04/01, Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (Jateng), dengan khidmat menyelenggarakan upacara tradisi pembersihan makam leluhur, kendurian, dan tabur bunga atau sering disebut Nyadran, Sabtu, (27-04).
Salah seorang tokoh masyarakat setempat Sugiyono (65) menjelaskan, istilah Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta, yakni “Sradha”. Istilah yang digunakan warga Hindu untuk upacara pemuliaan roh leluhur.
Baca juga:
Abdurrahman: Bambu Unik Bukan Barang Antik
Masuknya Islam membuat ritual Sradha menjadi tradisi Nyadran yang rutin diselenggarakan pada bulan Ruwah. Kosa kata Ruwah merujuk pada kata Arwah, di mana bulan Syakban dianjurkan untuk memuliakan orangtua, termasuk yang sudah meninggal, sebagaimana yang diajarkan Sunan Kali Jaga, salah satu Wali Allah di Tanah Jawa.
“Nyadran itu bagian dari budaya atau tradisi warisan leluhur kami. Kita menyediakan beragam makanan seperti jajanan pasar, apem, pisang raja, buah-buahan, dan yang lainnya, bukan untuk sesaji atau orang Jawa bilang sajen. Tetapi ini sebagai wujud syukur kami kepada Tuhan,” jelas Sugiyono.
Baca juga:
Penari Bregodo Klinting Pamitan Bupati Badingah
Page: 1 2
YOGYAKARTA - JUMAT LEGI, PROFESOR Sony Warsono, MAFIS, Ph.D.,CA, Ak resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar…
YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 11.099 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus…
GUNUNGKIDUL-SENIN PAHING, SD Muhammadiyah Mulusan II Padukuhan Mahbang, Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, menggelar kegiatan jalan…
SLEMAN-SENIN PAHING, SEORANG kakek berinisial N (73) warga Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, DIY tewas…
YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 210 mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta yang terpilih sebagai kakak asuh…
RONGKOP - KAMIS PON, Musim kemarau panjang tahun ini membawa tantangan ganda bagi Kabupaten Gunungkidul.…