Lebih lanjut dia menyampaikan, sudah menjadi kebiasaan saat tradisi Nyadran, semua kerabat, anak, cucu, cicit berkumpul, dan saling silaturahim sebelum nantinya mereka bersama-sama ziarah ke makam leluhur.
“Jadi pendapat salah bila mengatakan kita memberi sajen. Ragam makanan yang kita siapkan untuk anak, cucu, cicit kita, agar mereka senang,” ungkap Sugiyono.
Baca juga:
Upacara Mendak Tirto Alas Wonosadi Berkah Onggo Loco
Sudiyono menambahkan, rangkaian prosesi upacara tradisi Nyadran diawali dengan kenduri bersama yang dilakukan oleh semua warga di Padukuhan Karangmoncol, khususnya RT 04 RW 01 Desa Sanggrahan.
Selepas upacara kenduri, warga makan bersama, dan dilanjutkan silaturahim ke tempat orang tua atau saudara tertua. Dan untuk selanjutnya mereka bersama keluarga besarnya melakukan ziarah kubur di makam.
Baca juga:
Di TMII Kontingen Seni Gunungkidul Mewakili DIY Harus Tampil Memikat
“Kita berdoa bersama untuk roh para leluhur agar di tempatkan di surganya Allah. Nyadran bagi kami juga sebagai pengingat, bahwa yang dulu tidak ada, menjadi ada, dan kembali tidak ada. Nyadran juga untuk persiapan diri, membersihkan jiwa sebelum datang bulan suci Ramadhan, ini bagi yang beragama Islam, ” pungkas Sugiyono. (Ag)
Page: 1 2
GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…
TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…
YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…
YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…
WONOSARI - SABTU PON, Sebuah tamparan keras institusi pemerintahan kembali terjadi. Kali ini RDS alias…
GUNUNGKIDUL – RABU KLIWON, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana…