Ritual Tradisi Nyadran Guyub Rukun Sebelum Ramadhan

444

KLATEN, Minggu Pon – Ratusan warga masyarakat Padukuhan Karangmoncol 04/01, Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (Jateng), dengan khidmat menyelenggarakan upacara tradisi pembersihan makam leluhur, kendurian, dan tabur bunga atau sering disebut Nyadran, Sabtu, (27-04).

Salah seorang tokoh masyarakat setempat Sugiyono (65) menjelaskan, istilah Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta, yakni “Sradha”. Istilah yang digunakan warga Hindu untuk upacara pemuliaan roh leluhur.

Baca juga:

Abdurrahman: Bambu Unik Bukan Barang Antik

Masuknya Islam membuat ritual Sradha menjadi tradisi Nyadran yang rutin diselenggarakan pada bulan Ruwah. Kosa kata Ruwah merujuk pada kata Arwah, di mana bulan Syakban dianjurkan untuk memuliakan orangtua, termasuk yang sudah meninggal, sebagaimana yang diajarkan Sunan Kali Jaga, salah satu Wali Allah di Tanah Jawa.

“Nyadran itu bagian dari budaya atau tradisi warisan leluhur kami. Kita menyediakan beragam makanan seperti jajanan pasar, apem, pisang raja, buah-buahan, dan yang lainnya, bukan untuk sesaji atau orang Jawa bilang sajen. Tetapi ini sebagai wujud syukur kami kepada Tuhan,” jelas Sugiyono.

Baca juga:

Penari Bregodo Klinting Pamitan Bupati Badingah




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.