Sawah Pada Lembah Bengawan Solo Purba

1067

GIRISUBO-RABU PAHING | Tidak banyak orang percaya bahwa tanah pesisir dekat Pantai Sadeng, Girisubo Gunungkidul terdapat sawah irigasi teknik ‘tuk’ alias irigasi yang mengandalkan sumber mata air kecil. Sumber tersebut sepanjang tahun tidak kering.

“Setahun bisa panen tiga kali, meski luas lahan hanya sekitar dua hektar,” ujar Bekti Wibowo Suptinarso, SH kepada media, usai menyisir Pantai Sadeng, 5-7-2023.

Pegiat lingkungan yang tinggal di Padukuhan Saban Desa Karangwuni Kapanewon Rongkop itu menggambarkan, bahwa sawah tersebut statusnya adalah tanah pelungguh.

Pemegang kuasa aslinya adalah Dukuh Desa Song Banyu, Kapanewon Girisubo.

Pelungguh tersebut digarap oleh beberapa petani setempat, dengan sistem bagi hasil.

Pada permulaan Juli 2023 para petani penggarap mulai melakukan persemaian yang dalam bahasa mereka disebut ‘Ngurit’ gabah.

Setengah bulan ke depan uritan itu didaut (dicabut) kemudian ditandur (ditanam dengan teknik mundur) oleh simbok-simbok secara sambatan (bergotong royong).

Walaupun petani Song Banyu tidak fanatik menggunakan Kalender Pranatamangsa, tetapi yang mereka kerjakan tidak meleset dari paugeran musim ciptaan Raja Surakarta Pakubuwono Ke-7.

Bekti Suptinarso Ketua LSM Lestari yang pernah menjadi anggota KPUD Gunungkidul tahun 2003-2008 itu, rajin berkeliling Gunungkidul mencermati kebudayaan petani tradisional.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.