DIHIMPUN dari berbagai sumber, sejarah kepariwisataan di Indonesia dimulai tahun 1910, setelah Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan semacam kantor travel Verreneging Touristen Verker (VTV) di Batavia (sekarang Jakarta).
Pada masa Kolonial, hanya sedikit buku rujukan yang bisa dijadikan referensi sejarah Kepariwisataan di Indonesia.
Sempat ada Organisasi turis di Indonesia pada masa kolonial Belanda menerbitkan Guide Book untuk wisatawan asing yang berkunjung ke Hindia Belanda.
Hal itu ditulis Bungaran Antonius Simanjuntak, dan kawan-kawan berjudul ‘Sejarah Pariwisata Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesia’ (2017: 14).
Pada masa kolonial sempat juga dipromosikan pariwisata Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Lombok, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Tanah Toraja, Sulawesi.
Pariwisata moncer setelah Indonesia merdeka, terutama pada masa Presiden Soeharto, setelah kepariwisataan diserahkan ke tangan Joop Ave.
Pemuda keturunan Indo yang dikenal sebagai orangnya Soekarno ini dipercaya Soeharto sebagai Dirjen dan Menteri Pariwisata.
Joop Ave punya ambisi besar untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan asing ke Indonesia. Di masanya, ada sebuah program keren yang disebut Visit Indonesia Year 1991.
Tidak heran jika Mari Elka Pangestu menyebut bahwa Joop Ave layak disebut sebagai Bapak Pariwisata.
Sejarah Kepariwisataan daerah, dalam hal ini Kabupaten Gunungkidul, sepanjang penelusuran media belum pernah ditulis oleh siapa pun, padahal jumlah penduduk kategori intelektual lulusan S1, S2, bahkan S3 cukup banyak.
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil 2019 Semester 2, hasil konsulidasi bersih dengan Kemendagri dan GunungkIdul dalam angka 2020, lulusan S1 17.719, lulusan S2 1.064 dan lulusan S3 96 orang.
Ketika Dinas Pariwisata belum dipisah dengan Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan), tahun 2015 pernah diterbitkan buku bertajuk Potensi Kebudayaan dan Kepariwisataan.
Di bagian pendahuluan ditulis sejarah, tetapi tidak spesifik tentang kepariwisataan, melainkan histori berdirinya Kabupaten GunungkIdul. Di dalamnya tidak ada petunjuk tentang awal mula sejarah Kepariwisataan di GunungkIdul.
Memang benar bahwa Tim Penyusun Buku mencantumkan periodisasi mulai dari Prasejarah, Masa Klasik, Masa Islam, Masa Kolonial dan Masa Kemerdekaan, yang titik berat bukan pada sejarah pariwisata tetapi condong ke artefak dan peninggalan benda-benda kuno.
Tahun 1974, ketika Bupati Djoyodiningrat digantikan Ir. Darmakum Darmokusumo, wisata pantai yang terkenal baru Baron, Kukup dan Krakal. Tigapuluh dua pantai lain belum ditemukan, bahkan belum dikenal, kecuali Sadeng.
Di tangan Bupati KRT Sosro Hadiningrat, Ir. Soebekti Soenarto, Harso Diningrat, dan KRT Harjo Hadinegoro (Yoetikno) perkembangan pariwisata cukup landai.
Di tangan Bupati Suharto, SH pariwisata digenjot. Bupati mantan Sekda ini menganggap, pariwisata Gunungkidul seperti gajah tidur.
Berikutnya, pada masa Bupati Sumpeno Putro dan Bupati Badingah pariwisata Gunungkidul dibawa lari dengan strategi pariwisata berbasis masyarakat.
Terkait buku sejarah dalam arti luas, Soegiarso Soerojo, penulis buku Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai, tidak akan lepas dari pandangan pribadi.
Kolumnis yang menguasai bahasa Belanda, Inggris dan Perancis ini menyatakan, sejarah mirip karya jurnalistik.
Definisi jurnalistik (Jurnal ast L’homme), narasi sejarah merupakan karya pribadi tak akan lepas dari pandangan hidup penulisnya.
Soegiarso mengambil contoh, Redupnya Majapahit tulisan Mr. Moh. Yamin akan dipandang sebagai versi kebangsaan, karena dia seorang nasionalis. Tetapi yang ditulis Pramoedya Ananta Toer akan dipandang sebagai versi komunis. Dan karya Sabdopalon akan digolongkan ke dalam versi Jawa.
Sejarah kepariwisataan kabupaten Gunungkidul siapapun penulisnya, apakah itu pemerintah atau pun perseorangan sebenarnya sangat dibutuhkan untuk keperluan pengembangan kepariwisataan atau sebatas sebagai referensi dan pengayaan pemahaman tentang Gunungkidul. (Bambang Wahyu)








