Sejarah Sadranan Gununggambar dan Napak Tilas

404

NGAWEN-RABU PON | Pemerintah Kalurahan Jurangjero, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, bersama masyaratak setempat melaksanakan sadranan sekaligus napak tilas Perjuangan Pangeran Samber Nyowo, Senin Legi 24 Juli 2024.

   Objek Wisata Gununggambar

Gununggambar Padukuhan Wonosari, Kalurahan Jurangjero, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, salah wisata gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Gunungkidul Sisi Utara, memiliki pesona alam yang memukau.

Dari puncak gunung yang memiliki ketinggian mencapai 650 MDPL dihitung dari atas permukaan laut ini, pemandangan nan luas membentang pun dapat terlihat dengan jelas.

Bahkan beberapa kota seperti Wonosari, Klaten, Solo dan Waduk Gajah Mungkur pun terlihat dengan jelas dari Puncak Gununggambar.

Selain menjadi salah satu objek wisata yang menarik, keberadaan Gununggambar ini pun tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda oleh Pangeran Mangkubumi pada sekitar abab 18 silam.

Sementara tokoh terdahulu yang juga berkaitan erat dengan sejarah Gununggambar yakni, Raden Gading Mas.

   Raden Gading Mas

Menurut beberapa catatan sejarah, pada abat ke 15 atau sekitar tahun 1450, atas perintah Prabu Brawijaya Raja Majaphit kala itu, Raden Gading Mas melakukan pertapaan untuk mencari wahyu keraton bersama Raden Onggo.

Tempat pertapaan Radeng Gading Mas yakni di sebuah Goa Kecil yang dahulu bernama Gempol dan sekarang disebut dengan nama Gununggambar.

Selain bertapa Raden Gading Mas merupakan sesepuh cikal bakal masyarakat sekitar Gununggambar yang dijuluki Ki Ageng Panutan.

Konon pada setiap hari Senin Legi dan Kamis Legi, Ki Ageng Panutan kala itu melakukan wejangan terhadap murid-muridnya di atas puncak Gununggambar.

Sehingga untuk menggenang kejadian tersebut diadakan peringatan Upacara Adat Sadranan yang berarti Kiriman.

Selanjutnya oleh para pengikut Ki Ageng Gading Mas, Sadranan atau Kiriman diadakan setahun sekali sehabis masa panen, lantaran pada hari tersebut, diyakini oleh masyarakat di sekitar Gununggambar merupakan hari lahir dan meninggalnya atau moksanya Raden Gading Mas.

Selain mengenang jasa Ki Ageng Panutan, Adat Tradisi Sadranan merupakan wujud syukur atas kebesaran sang pencipta, serta salah satu upaya pelestarian budaya.

Oleh Pemerintah Kalurahan Jurangjero, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, bersama masyarakat setempat, sadranan dikemas sekaligus napak tilas salah satu tokoh lain yakni Pangeran Samber Nyowo.

   Pangeran Samber Nyowo

Cerita Pangeran Samber Nyowo atau sebelumnya bernama Raden Mas Sahid merupakan putera menantu Pangeran Mangku Bumi dari Keraton Yogyakarta bernama Mataram.

Konon jauh sebelum dinobatkan menjadi raja, Pangeran Samber Nyowo pergi ke wilayah Ngawen, dengan maksud meminta bantuan Ki Demang Singo Dikoro.

Atas petunjuk Ki Demang  Singo Dikoro, Pangeran Samber Nyowo pun selanjutanya bertapa di goa yang sama, tempat di mana moksanya Ki Gading Mas.

Hingga suatu ketika setelah Pangeran Samber Nyowo berhasil mendapatkan wahyu keraton dari hasil pertapaanya, Raden Mas Sahid pun duduk di sebuah batu yang disebut BatuKong.

Di atas Batukong  inilah jejak Pangeran samber nyowo duduk menggambar daerah yang akan dijadikan sebagai pusat pemerintahan, sekaligus rute perang melawan penjajah Belanda kala itu.

Sehingga oleh Pangeran Samber Nyowo,  tempat tersebut diberi nama Gununggambar.

   Sadranan Gununggambar

Berjalan kaki dari bawah hingga ke puncak Gununggambar pada tradisi sadranan tahun ini yang jatuh pada, Senin Legi 2023, merupakan salah satu wujud syukur sekaligus napak tilas perjuangan Pangeran Samber Nyowo.

Napak tilas yang diikuti oleh penewu, lurah, tokoh masyarakat, pelajar dan mahasiswa tersebut dimulai dari Sumur Pucang yang berada di Padukuhan Wonosari.

Setelah menempuh jarak kurang lebih 1 kilo meter hingga puncak Gununggambar peserta diijinkan beristirahat sejenak, sebelum Upacara Adat Sadranan dimulai.

Acara dilanjutkan Kirab Gunungan dan Tumpeng Sedekah Bumi, serta kenduri dan tradisi rebutan ingkung.  Selain itu, hiburan masyarakat juga digelar di Padukuhan Wonosari sebagai acara penutup Sadranan Gununggambar Red_




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.