Sejumlah Petani Masih Kesulitan Penggunaan Kartu Tani

1004

WONOSARI-SABTU KLIWON | September 2020 lalu, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul mewajibkan penggunaan Kartu Tani. Dengan kartu tersebut, petani mendapatkan pupuk subsidi dengan harga yang lebih murah. Meski begitu, sejumlah petani mengaku masih kesulitan dalam memanfaatkan Kartu Tani.

Sutarno, salah satu anggota Kelompok Tani (Poktan) Sari Bumi Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo mengungkapkan, bahwa sejumlah petani masih menggunakan metode pembelian konvensional dan cara itu masih tetap jadi pilihan utama.

Kendala yang dialami, Sutarno berujar, adalah bagi petani yang telah lanjut usia (lansia).

“Sebagian petani di sini kan sudah lansia, mereka tidak memahami bagaimana cara menggunakan Kartu Tani,” kata Tarno Sabtu, (30/10/2020).

Diketahui, mekanisme Kartu Tani berupa pembelian pupuk subsidi dengan menggunakan kartu serupa ATM yang sudah berisi saldo. Petani cukup menggesekkan kartu tersebut ke mesin EDC untuk mendapatkan jatah pupuk. Namun, mengingat ada sebagian petani lansia, Tarno mengatakan mereka masih perlu pendampingan dalam menggunakan kartu tersebut.

Apalagi, menurutnya, mereka juga belum memahami fungsi dari Kartu Tani itu sendiri.

“Sudah kami bicarakan soal kesulitan itu, mungkin mereka masih butuh proses penyesuaian hingga terbiasa nantinya,” ucapnya.

Tak jauh berbeda, Ketua Gapoktan Harapan Jaya Kalurahan Putat, Paija mengatakan, bahwa masih banyak petani yang kerepotan dengan Kartu Tani tersebut.

Apalagi, Paijo berujar, bahwa baru sebagian yang memilikinya. Pasalnya, fisik Kartu Tani sudah didistribusikan sejak 2017 silam. Lantaran saat itu tidak ada tindak lanjut soal penggunaannya, Kartu Tani milik sebagian petani pun hilang entah ke mana.

“Belum lama ini sudah kami usulkan untuk mendapatkan pengganti. Saat ini masih dalam proses,” kata Paija.

Meski menjumpai sejumlah kendala, Paija dan Sutarno menyatakan keberadaan Kartu Tani justru bisa memudahkan jika sudah memahami. Sebab, penggunaan pupuk untuk pertanian jadi lebih efisien sesuai kebutuhan.

Tarno mengatakan “harus pintar-pintar” dalam menggunakan Kartu Tani ini. Sedangkan Paija menyebut rekan-rekan petani yang belum ada Kartu Tani terpaksa membeli pupuk di toko biasa.

“Harganya memang jadi lebih tinggi, tapi ya mau tidak mau karena sebagian dari kami belum ada pengganti Kartu Tani itu,” ujarnya. (Hery)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.