GEDANGSARI – Selasa Pon | Bantuan kemiskinan yang diterjemahkan menjadi bantuan untuk orang miskin muncul di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, berlanjut ke pemerintahan Joko Widodo.
Bantuan langsung tunai (BLT) masa SBY, berubah menjadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) pada kepemimpinan Jokowi. Berikutnya ada PKH (Program Keluarga Harapan). Kesemuanya merupakan produk Kementerian Sosial Republik Indonesia, karena amanat UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1, bahwa fakir miskin dan anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
Selasa pagi, 06 Agustus 2019, bertempat di aula Kecamatan Gedangsari 30 perwakilan warga penerima PKH (seluruhnya ibu-ibu) menyampaikan aspirasi menolak bantuan kemiskinan, disaksikan Bupati Gunungkidul, Hj. Badingah, S.Sos.
Di depan Badingah, Camat Gedangsari, Martono Imam Santoso menjelaskan, deklarasi penolakan bantuan kemiskinan itu dilatarbelakangi budaya malu dan solidaritas (kesetiakawanan).
Perwakilan 30 ibu-ibu penikmat PKH merasa tidak pantas menerima uluran tangan Pemerintah, ujar Camat Gedangsari, karena telah mampu mandiri.
“Untuk itu bantuan PKH minta diberhentikan, dan PKH selanjutnya agar diberikan kepada warga yang lebih berhak menerima,” terang Imam Satoso, jelang ibu-ibu gelar deklarasi.
Page: 1 2
GUNUNGKIDUL – SENIN PAHING, Diduga kehilangan kendali, sepasang suami istri lanjut usia alami kecelakaan tunggal…
NGLIPAR - SENIN PAHING, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…
TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…
YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…
YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…