Sindiran Gaya Presiden Joko Widodo

242

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam berpidato sering menggunakan gaya bahasa repetisi, mengulang kata dengan maksud memberi penekanan terhadap pesan yang disampaikan . Di samping itu, mantan Gubernur DKI 2012 setengah jalan ini juga gemar menyindir.

Baru-baru ini, Jokowi mengemukakan, demi menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, pemerintah dapat membubarkan organisasi kemasyarakatan (Ormas) anti Pancasila.

Pembubaran ormas-ormas anti Pancasila, menurut Presiden, bukan untuk menghambat proses demokrasi di Indonesia.

“Kita berada di negara yang berdemokrasi. Di negara demokratis  silakan sampaikan pendapat, silakan bila ingin berdemo. Tetapi ada aturan yang harus diikuti, yakni tidak mengganggu yang lain, dan bisa menjaga ketertiban keamanan kota maupun negara,” kata Presiden seperti dilansir di laman resmi Sekretariat Kabinet 5/5/17.

Jokowi tidak terang-terangan menyebutkan ormas yang dipandang sebagai anti Pancasila. Dia cukup menyindir dengan kata kunci berdemo.

Tak perlu dijelaskan publik tahu, yang belakangan aktif berdemo adalah Front Pembela Islam (FPI).

Ormas yang dikomdani Habib Rizieq ini anti Pancasila? Itulah yang tidak diceploskan, hanya disindir-sindir.

Problem yang kemudian dihadapi: demonya super tertib, orasinya halus, lakunya sopan, tetapi niatnya mengganti ideologi negara. Nah, mampukah Jokowi mendeteksi hal seperti ini?

Orang tidak mudah melupakan sejarah yang menimpa Serambi Mekah, yang dilakukan Christiaan Snouck Hurgronje. Sarjana Belanda, penganut paham orientalist ini berhasil membobol Tanah Rencong. Kelakuannya lebih islami dibanding masyarakat  aceh pada waktu itu.

Saat ini, Presiden Jokowi tidak mampu mencermati,  ada orang, atau kelompok orang, yang berperilaku sangat pancasilaist, tetapi niatnya malah merobohkan ideologi negara.

Sekali-sekali boleh dong menyindir, bahwa presiden Jokowi tidak peka.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.