TEGURAN KERAS PADA DUKA NTB DAN DUKA DONGGALA

1146

PALU, SABTU PAHING – Janji Allah SWT dalam Az-Zalzalah ditepati. Tidak satupun ciptaan-Nya mampu mengelak. Semua hanya bisa berserah. Kepongahan tidak bermakna. Jembatan kuning kebanggaan warga Sulawesi Tengah runtuh cukup dengan gempa tektonik 7,7 SR terupdate 7.4 SR menjelang magrib, (28/09).

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,” kata Allah SWT, ” dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya, manusia bertanya, apa yang terjadi pada bumi ini.”

Duka NTB, Duka Donggala menyelimuti anak negeri yang sedang menggendong pesta demokrasi untuk dua kursi Calon Presiden dan Wakil Presiden.

Sungguh teguran keras bukan hanya sindiran. Merasakah tuan penguasa bahwa kehadiran gempa dan tsunami adalah bagian dari peringatan untuk kembali ke jalur yang lurus.

Sudahlah, meraih istana dengan uang Rp 2 miliar atau Rp 11,7 miliar, tidak akan punya makna, ketika Sang Khalik memerintahkan bumi untuk berguncang.

“Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya.

Sekuat apapun istana (kekuasaan) yang didirikan manusia, adalah mustahil abadi. Duka NTB, Duka Donggala itu irama kepatuhan yang patut menjadi pelajaran, sebelum gunung terbang seperti kapas, sebelum laut menggelegak, dan sebelum patahan sesar terus bergeser karena terdesak oleh keserakahan pengerukan emas, batubara, biji besi, minyak bumi, semen dan lainnya.

Secara ekonomi Sulawesi terancam, Donggala diperingatkan. Masih ingat jutaan tenaga kasar asing menggeser tenaga kerja setempat. Inilah peringatan keras untuk orang-orang serakah. (Bambang Wahyu Widayadi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.