Salah satu sesepuh setempat menjelaskan makna acara tradisi lempar nasi dan lauk memang dilihat sekilas menghambur-hamburkan makanan yang akhirnya hanya mubadzir.
“Tetapi tidak demikian dengan pemikiran sesepuh jaman dahulu, semua mengandung simbol atau filosofi dan mengandung nilai sosial,” ujar sesepuh yang tidak mau disebut namanya tersebut.
Setelah selesai didoakan, kemudian diperebutkan, disebar, saling serang, dan sebagainya, Sesepuh setempat menjelaskan filosofinya bahwa manusia hidup untuk meraih cita-cita mendapatkan rizki di dunia ini tidak hanya cukup berpangku tangan saja.
Manusia harus berusaha keras saling berebut rizki di muka bumi ini. Kalau sudah berusaha untuk merebut rizki, hasilnya diserahkan kepada Tuhan semata.
“Makanya pada saat berebut, setiap warga dapatnya berbeda-beda, ada yang mendapat ayam panggang, jadah, nasi, ataupun hanya mendapatkan kerupuk, itu tergantung rizkinya masing-masing, tetapi kalau hanya berpangku tangan, ya tidak akan mendapatkan apa-apa,” ungkapnya.
Itu dari segi nilai filosofinya, jika dinilai dari segi sosial, pemahaman nenek moyang jaman dulu lebih teliti dan mendalam.
Rizki yang sudah diperoleh manusia, tidak hanya untuk manusia saja, namun selain manusia, kehidupan yang lain supaya bisa menikmatinya juga.












