BANGSAKU HIDUP DI PERADABAN MEME

2010

WONOSARI, SENIN LEGI-Meme, olok-olok atau apalah namanya, itu hidup subur, sejak sebelum kerasalulan Muhammad SAW.

Kala itu, menurut para pecandu, meme atau olok-okok disejajarkan dengan sendau gurau. Dewasa ini, kebiasaan bergolok-olok masih terus berlanjut. Kebenaran mutklak, yang berasal dari Allah SWT, ada kencerungan didegradasi sebagai ramalan, bahkan dijadikan guyonan politik oleh sebagian besar tokoh papan atas.

Orang-orang beriman diperingatkan untuk tidak duduk sebangku dengan orang yang suka memperolokan kebenaran. Duduk bersama pengolok-olok tidak ada faedahnya, bahkan bisa serupa dengan si pengumbar olok-olok.

Silakan dicermati fenomena olok-olok yang lagi ngetrend, satu pihak memanggil kecebong pihak yang lain memanggil kampret.

Melihat merebaknya saling melempar meme, janji azab yang ditangguhkan Allah SWT, cepat atau lambat, akan turun, membinasakan manusia pengumbar olok-olok.

Agar terhindar dari azab, tidak ada jalan lain kecuali melakukan taubat nasuha, kembali kepada jalan lurus sesuai sabda Allah SWT.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Hujurat: Ayat 11).

Komukikasi politik pilpres serentak 2019 tidak ada tanda-tanda dijiwai Ketuhanan Yang Mama Esa. Gawat, olok-olok merupakan prakondisi datangnya azab yang pedih.

Bambang Wahyu Widayadi




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.