Bajak Sawah Pensiun, Anak Petani Kehilangan Cerita

2099

WONOSARI-SELASA KLIWON | Dekade 60-an petani menggarap sawah dengan luku alias bajak yang ditarik sapi atau kerbau. Di era mekanisasi, kerbaunya traktor.

Saat sedang kerja keras sapi dan kerbau tak boleh makan. Oleh sebab itu mulut mereka diberangus dengan brongsong. Kerbau mekanik berbeda, sebelum kerja, dia harus full makan solar.

Gunungkidul adalah Kabupaten agraris tetapi sudah jarang terlihat petani menggarap sawah dengan bajak atau luku.

Indonesia di samping sebagai negara maritim juga negara agraris. Jejaknya terekam di dalam tembang Kembang Glepang.

“Apa rika tumun maning
Ana kinjeng nggeret lintang
Apa memper ana kinjeng kok nggeret lintang
Rika arep tumun bli inyong
Tumun iki
Pancen bocah seneng klayaban
Kinjenge, kinjeng kebo
Lintange, lintang luku
Ana kebo nggeret luku,” ujar pesinden dan Wiyogo Banyumasan.

Peradaban ngluku sesungguhnya menyimpan khazanah kebudayaan yang khas terutama penggunaan istilah bahasa antara pembajak dan hewan penarik.

Jak-jak adalah perintah agar kerbau berangkat, sementara His adalah isyarat untuk berhenti.

Gya dan Her adalah isyarat bahwa kerbau harus berjalan ke kiri dan ke kanan.

Dan ketika pembajak mengajak agar hewan penari berjalan landai dia hanya berucap,” lon-lon lon to pi, atau lon to bo (maksudnya alon-alon to pi sapi).

Kekayaan bahasa pembajak kini lenyap. Anak petani Gunungkidul tidak lagi mengenali hal itu. Yang mereka tahu bajak adalah aksesoris rumah makan, karena kuku, garu, pasangan dan brongsong banyak digunakan sebagai hiasan di sana. ( Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.