RELIGIUSITAS PUISI SANG BINATANG JALANG

1241

SEBAGIAN besar umat manusia ada kecenderungan berpaling dari ajaran yang benar.

Dalam puisi berjudul KEPADA PEMELUK TEGUH karya Penyair Angkatan 45, Chairil Anwar, keberpalingan manusia tergambar jelas.

Hidup di dunia ini, menurut Si Binatang Jalang (Chairil Anwar) adalah identik dengan mengembara di negeri asing. Jiwa tidak lagi teguh di alamnya. Jiwa keluar dari jati dirinya.

Suatu saat, meski dalam termangu, Chairil menyatakan, manusia masih juga menyebut nama-Nya.

Dalam mengingat Tuhan menurut Chairil ada banyak kesulitan.

“Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh,” kata Pelopor Angkatan 45 itu.

Cahaya Tuhan yang panas suci, di mata Chairil hanya kecil, seperti kerdip lilin di kelam sunyi.

Kemudian dia sambat karena remuk dan hilang bentuk. Imajinasinya yang liar pun luruh dan mengakui saat dia bersimpuh di hadapan-Nya.

“Tuhanku Di pintu-Mu aku mengetuk Aku tidak bisa berpaling,” demikian Chairil Anwar mengakhiri puisinya yang dinilai religius oleh penikmatnya.

Secara utuh, berikut puisi yang dimaksud:

KEPADA PRMELUK TEGUH

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut
Nama-Mu

Biar susah sungguh mengingat
Kau penuh seluruh

Cahaya-Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.