SEBENTAR LAGI MANUSIA KERUPUK TENGGELAM, MANUSIA BESI MEMIMPIN DUNIA

1721

SETELAH sholat dan berpuasa, Anda harus yakin bahwa segera berubah menjadi prajurit kemanusiaan yang bukan hanya manusia kerupuk seperti sekarang, tetapi manusia besi yang akan memimpin dunia sebagaimana Maha Patih Gadjah Mada.

Kyai Haji Supandi, da’i mu’alaf kelahiran Yogyakarta yang kini tinggal di Semarang bertanya kepada jama’ah, untuk apa seseorang dilahirkan ke dunia tetapi kehadirannya tidak menggenapi, kepergiannya tidak mengganjili.

Sholat dan puasa yang Anda kerjakan adalah prosesi yang membawa Anda ke arah mental prajurit kemanusiaan yang bermanfaat untuk sesama.

Pertanyaan KH Supandi tadi simpel tetapi mengandung makna cukup dalam, karena di dalamnya terkandung filosofi hidup. Sebagai kalifah prestasi besar manusia adalah mereka yang hidupnya penuh manfaat bagi orang lain maupun bagi alam tempat dia berpijak.

Kuncinya ada pada kata manfaat. Terkait hal ini Cak Nun dalam acara Sinau Bareng juga bertanya kepada jama’ah, bahwa benarkah sholanya manusia itu telah bermanfaat bagi sesama dan bagi alam semesta?

Pertanyaan itu Cak Nun dijawab sendiri, bahwa sholatnya manusia saat ini belum bermanfaat bagi siapapun, termasuk bagi dirinya sendiri.

Sholatnya manusia kepada Allah, kata Cak Nun, adalah sebuah kewajiban dalam bentuk pengabdian seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Allah perintahkan sholat kepada manusia, tetapi Dia tidak mengambil manfaat dari sholat yang dikerjakan manusia. Mau sholat silahkan, mau tidak sholat tidak masalah, Allah tidak merugi.

Sesama manusia dan lingkungan itulah yang butuh merasakan manfaat sholat. Begitu pula jika manusia mengerjakan puasa. Outputnya apa ketika di bulan ramadhan manusia berpuasa.

Bahwa sholat dan puasa itu adalah outcome. Outputnya adalah seperti sepotong besi. Logam itu sangat kuat dan banyak manfaat.

Logam bisa berubah menjadi gergaji mesin untuk memotong kayu. Yang berwujud silet berguna untuk merapikan kumis, yang berbentuk jarum bisa untuk menjahit baju sehingga melahirkan kebudayaan penutup aurat.

Sholat dan puasa itu alur alam pikiran fungsional yang digagas Van Peursen yang dipaparkan dalam buku Strategi Kebudayaan.

Dengan menjadi besi, bukan menjadi kerupuk, kedatangan Anda di tengah komunitas sosial oleh sebab itu pasti menggenapi, dan kematian Anda pun akan mengganjili.

Sholat dan puasa menggembleng dan menempa Anda menjadi prajurit kemanusiaan yang bermanfaat untuk sesama.

Prajurit kemanusiaan tidak akan seperti orang gila, menoleh ke kanan tertawa demi melihat bangsanya masuk surga, menoleh ke kiri bersedih sebab kerabatnya masuk ke Neraka.

Prajurit kemanusiaan tidak hanya seperti kerupuk yang keras dan renyah sebab baru saja diangkat dari wajan, baru saja ditetapkan sebagai pejabat politik.

Dalam larik puisi Chairil Anwar manusia yang bermanfaat itu gambarannya: Sekali berarti, sudah itu mati.

Jeritan para mantan prajurit kemanusiaan dari liang lahat terus bergema, mengiang di telinga manusia yang ditinggal gugur.

“Kenang, kenanglah kami yang terbaring di antara Ketawang Bekasi. Kami tinggal tulang-tulang diliputi debu.” (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.