WONOSARI-JUMAT PAHING | Digelindingkan satu gagasan, bahwa Kabupaten Gunungkidul kemungkinan bisa dimekarkan atau dibelah menjadi dua Kabupaten.
Mirip cerita Mahabarata, Hastina dibagi Sigar Semangka atas nama keadilan.
Bedanya, dalam hal ini tidak ada peperangan. Satu disebut Gunungkidul Timur, yang lain dinamai Gunungkidul Barat.
Wakil Ketua DPRD Gunungkidul, Heri Nugroho menanggapi wacana tersebut agak serius.
“Pemekaran Kapanewon Semanu yang hanya terdiri 5 desa, belum terlaksana. Niki sudah direncanakan 15 tahun yang lalu,” tulis Wakil Ketua DPRD Heri Nugroho, melalui WhatsApp Grup Guyup GunungkIdul, 9-3-2023.
Rancangan pemekaran itu digelindingkan oleh mantan anggota DPRD DIY, Slamet, S PD. MM.
Kabupaten Gunungkidul Timur, menurut Slamet terdiri dari sembilan (9) Kapanewon meliputi:
1. Ponjong berpenduduk 56.477; 2. Ngawen 35.303; 3. Semin 57.813; 4. Karangmojo 56.996; 5. Rongkop 29.884; 6. Girisubo 25.671; 7. Semanu 60.727; 8. Tepus 36.909; dan 9. Kapanewon Tanjungsari dengan penduduk 29.544 jiwa.
Total penduduk 389.324 orang.
Kabupaten Gunungkidul Barat juga terdiri atas sembilan (9) Kapanewon meliputi :
1. Kapanewon Wonosari berpenduduk 89.788; 2. Nglipar 33.877; 3. Playen 62.161; 4. Patuk 34.967; 5. Paliyan 33.156; 6. Panggang 30.004; 7. Gedangsari 40.000; 8. Saptosari 40.255; 9. Purwasari dengan penduduk 21.313 jiwa. Total penduduk 385.521 orang.
Dilihat dari total penduduk, Gunungkidul Timur 389.324, sementara Gunungkidul Barat 385.521. Dalam hal ini terdapat selisih 3.803 jiwa.
Dr. Supriyadi, cendekiawan yang tinggal di Desa Petir Kapanewon Rongkop acungi jempol tanda sepakat.
“Jiaan sangat setuju, Ibukotanya di Rongkop, he he deket JJLS jadi Wilayah Lintasan. Dgn segala keterbatasan fasilitas, tp kayaknya berani mengejar ketertinggalan dgn Gundul Barat, paling berat di bidang pendidikan yg akan dihadapi,” timpal Dr. Supriyadi di grup WhatsApp yang sama.
(Bambang Wahyu)






